Anggaran Dropping Air BPBD Gunungkidul Makin Menipis
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Gerakan tanam kedelai yang digelar di Petak 92 Resor Pengelolaan Hutan (RPH) Banyusoca, Kecamatan Playen, Rabu (11/3/2020)./Istimewa-Dokumen DPP Gunungkidul
Harianjogja.com, Gunungkidul—Produktivitas kedelai di wilayah Gunungkidul masih perlu terus ditingkatkan. Hingga kini, target panen minimal dua ton per hektare belum bisa terpenuhi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, tahun ini Pemkab Gunungkidul menargetkan penanaman kedelai seluas 4.212 hektare. Namun untuk realisasinya baru mencapai sekitar 3.500 hektare. "Target luas lahan masih bisa terpenuhi. Sebab, masih ada 1.500 hektare lahan yang kami siapkan untuk menanam kedelai,” kata Rismiyadi, Minggu (7/5/2023).
BACA JUGA: Petani Gunungkidul Semangat Tanam Kedelai Meski Cuaca Tak Tentu, Ini Alasannya
Rismiyadi mengakui masih ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Salah satunya menyangkut masalah produktivitas. Dia menjelaskan, panen kedelai tahun ini ditargetkan mencapai paling sedikit dua ton per hektarenya. Namun demikian, hasil dari salah satu pengubinan panen di Kalurahan Sidoharjo, Ponjong, produksinya baru 1,8 ton per hektare.
“Kami terus berupaya agar panen bisa terus dioptimalkan,” ungkapnya.
Menurut dia, program yang akan dijalankan dengan memberikan pendampingan secara intensif ke petani. Rismiyadi menuturkan, tanakan kedelai membutuhkan perlakukan khusus, seperti tidak boleh kekurangan atau kelebihan air pada saat pemeliharaan.
Oleh karenanya, untuk memastikan kebutuhan sesuai dengan harapan maka perlu dipersiapkan sumber air serta saluran drainanse yang baik. “Adanya drainanse untuk mengatur air di sekitar lokasi penanaman,” katanya.
Selain itu, agar panen optimal diperlukan pengolahan lahan yang lebih intensif. “Tentunya pengamatan hama sejak awal juga dibutuhkan agar ancaman dalam pertumbuhan bisa ditekan,” katanya.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono menambahkan, luas tanam kedelai terhitung kecil dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, kacang hingga jagung. Menurut dia, banyak petani yang enggan menanam karena pemeliharaan kedelai lebih sulit ketimbang tanaman lainnya.
BACA JUGA: Tanah Kas Desa di Gunungkidul Dimanfaatkan untuk Budidaya Pertanian
“Memang ancaman serangan hamanya lebih banyak sehingga perawatan lebih banyak. Tapi kami tetap berupaya agar luas tanam dapat ditingkatkan di setiap tahunnya,” katanya.
Meski demikian, ia berharap budidaya terus dilakukan karena harga kedelai bagus karena di kisaran Rp13.000 per kilogram sehingga bisa memotivasi petani untuk menanamnya. “Tentunya pendampingan terus dilakukan agar hasilnya optimal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Penumpang KA jarak jauh di Daop 6 Jogja naik 23% saat libur Maulid Nabi. Total 47.833 penumpang tercatat hingga Selasa siang.
China menolak ikut kampanye sanksi AS terhadap Iran. Beijing memilih mempertahankan hubungan dengan Teheran karena kepentingan energi dan strategis.
Perda Kota Layak Anak Jogja segera disahkan. DPRD mendorong perlindungan anak lintas sektor, data terintegrasi, dan fasilitas ramah anak.
Pidato Prabowo di Senayan menyoroti capaian ekonomi, investasi, MBG, kemiskinan, hingga pemerataan pembangunan setelah 21 bulan pemerintahan.
Sebanyak 17 pengurus PSI Gunungkidul pindah ke NasDem. Mereka mengaku kecewa setelah tak lagi masuk dalam kepengurusan baru PSI.