Lomba Cerdas Cermat Museum di Gunungkidul Kenalkan Sejarah Lokal
Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Gunungkidul menggelar lomba cerdas cermat museum tingkat SMP di Taman Budaya Gunungkidul, Selasa (12/5/2026).
Pengendara motor sedang melintas di kebun kakao di Dusun Plumbungan, Putat, Patuk. Foto diambil Minggu (4/6/2023). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Budidaya tanaman kakao di Gunungkidul belum optimal. Hal ini terlihat dari hasil panen yang masih jauh dari rataan panen nasional.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Adinoto mengatakan, produktivitas kakao secara nasional sebanyak 1,8 ton per hektarenya. Adapun kondisi di Gunungkidul baru mencapai 800 kilogram per hekatarenya.
“Produksi kakao memang belum optimal karena hasilnya masih jauh dari rata-rata nasional,” katanya, Kamis (8/6/2023).
BACA JUGA: Kakao Kulonprogo Jadi Sampel di Prancis
Ia mengaku telah melakukan identifikasi terkait dengan masalah produktivitas kakao. Salah satu faktor panen belum optimal karena perawatan yang masih serampangan dan tanaman yang berusia 25-30 tahun sehingga berdampak terhadap produktivitas.
“Pola tanam masih tumpang sari dan pemeliharaannya kurang. Hal ini terlihat pohon jarang dipangkas sehingga berpengaruh terhadap pembungaan bakal buah,” katanya.
Adanya permasalahan ini, lanjut Adinoto, sudah dilakukan perencanaan untuk optimalisasi. Kelompok asosiasi petani kakao juga dibentuk agar pendampingan bisa lebih dioptimalkan.
"Selama ini belum ada asosiasi yang menaungi, makanya dengan hadirnya taman teknologi pertanian di Nglanggeran, Patuk maka bisa saling melengkapi dalam upaya optimalisasi kakao,” katanya.
Menurut dia, budidaya kakao sangat prospektif karena pangsa pasar sebagai bahan baku coklat masih terbuka luas. Untuk area hingga sekarang tercatat 1.367 hektare.
“Paling banyak ada di Kapanewon Patuk dengan luas 710 hektare. Sedangkan sisanya tersebar di kapanewon lain,” katanya.
BACA JUGA: PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Prospektif, Tanaman Kakao Mulai Digalakkan
Ketua Asosiasi Kakao Gunungkidul, Rubani mengatakan, asosiasi baru saja dibentuk dan sekarang masih dalam penyelesaian pembentukan struktur kepengurusan. Keberadaan asosiasi diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan budidaya kakao di Bumi Handayani.
Ia tidak menampik saat sekarang produktivitas masih belum optimal sehingga dengan terbentuknya suatu wadah dapat menjadi langkah konkret dalam pengembangan yang lebih baik. “Nanti bisa saling bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam budidaya,” katanya.
Selain itu, dengan terbentuknya asosiasi dapat meningkatkan mutu dari biji kakao yang dihasilkan. “Dengan semakin baiknya hasil panen, maka nilai ekonomisnya juga semakin naik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Gunungkidul menggelar lomba cerdas cermat museum tingkat SMP di Taman Budaya Gunungkidul, Selasa (12/5/2026).
Akses parkir bus Abu Bakar Ali II Jogja diatur satu arah. Bus wisata wajib memutar lewat Stadion Kridosono menuju Malioboro.
Presiden Prabowo menyebut sejumlah negara kini meminta membeli beras dari Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global.
Pendaki asal Riau patah tulang saat mendaki Gunung Rinjani. Tim TNGR dan EMHC lakukan evakuasi di jalur Pelawangan Sembalun.
DPP Gunungkidul menyiapkan strategi antisipasi gagal panen saat musim kemarau dengan percepatan tanam dan benih padi umur pendek
OJK menargetkan satu Bank Umum Syariah baru hasil spin-off terbentuk pada 2026 untuk memperkuat industri perbankan syariah nasional.