Pemkab Gunungkidul Bangun 90 Kios Rp783 Juta untuk Perluasan Taman Kuliner Wonosari
Taman Kuliner Wonosari diperluas dengan pembangunan 90 kios senilai Rp783,084 juta yang ditargetkan rampung awal Desember 2026.
Pengendara motor sedang melintas di kebun kakao di Dusun Plumbungan, Putat, Patuk. Foto diambil Minggu (4/6/2023). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Budidaya tanaman kakao di Gunungkidul belum optimal. Hal ini terlihat dari hasil panen yang masih jauh dari rataan panen nasional.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Adinoto mengatakan, produktivitas kakao secara nasional sebanyak 1,8 ton per hektarenya. Adapun kondisi di Gunungkidul baru mencapai 800 kilogram per hekatarenya.
“Produksi kakao memang belum optimal karena hasilnya masih jauh dari rata-rata nasional,” katanya, Kamis (8/6/2023).
BACA JUGA: Kakao Kulonprogo Jadi Sampel di Prancis
Ia mengaku telah melakukan identifikasi terkait dengan masalah produktivitas kakao. Salah satu faktor panen belum optimal karena perawatan yang masih serampangan dan tanaman yang berusia 25-30 tahun sehingga berdampak terhadap produktivitas.
“Pola tanam masih tumpang sari dan pemeliharaannya kurang. Hal ini terlihat pohon jarang dipangkas sehingga berpengaruh terhadap pembungaan bakal buah,” katanya.
Adanya permasalahan ini, lanjut Adinoto, sudah dilakukan perencanaan untuk optimalisasi. Kelompok asosiasi petani kakao juga dibentuk agar pendampingan bisa lebih dioptimalkan.
"Selama ini belum ada asosiasi yang menaungi, makanya dengan hadirnya taman teknologi pertanian di Nglanggeran, Patuk maka bisa saling melengkapi dalam upaya optimalisasi kakao,” katanya.
Menurut dia, budidaya kakao sangat prospektif karena pangsa pasar sebagai bahan baku coklat masih terbuka luas. Untuk area hingga sekarang tercatat 1.367 hektare.
“Paling banyak ada di Kapanewon Patuk dengan luas 710 hektare. Sedangkan sisanya tersebar di kapanewon lain,” katanya.
BACA JUGA: PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Prospektif, Tanaman Kakao Mulai Digalakkan
Ketua Asosiasi Kakao Gunungkidul, Rubani mengatakan, asosiasi baru saja dibentuk dan sekarang masih dalam penyelesaian pembentukan struktur kepengurusan. Keberadaan asosiasi diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan budidaya kakao di Bumi Handayani.
Ia tidak menampik saat sekarang produktivitas masih belum optimal sehingga dengan terbentuknya suatu wadah dapat menjadi langkah konkret dalam pengembangan yang lebih baik. “Nanti bisa saling bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam budidaya,” katanya.
Selain itu, dengan terbentuknya asosiasi dapat meningkatkan mutu dari biji kakao yang dihasilkan. “Dengan semakin baiknya hasil panen, maka nilai ekonomisnya juga semakin naik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Taman Kuliner Wonosari diperluas dengan pembangunan 90 kios senilai Rp783,084 juta yang ditargetkan rampung awal Desember 2026.
Aries Budiman, drummer band Garasi dan pemeran film Garasi (2006), meninggal dunia pada usia 42 tahun. Fedi Nuril, Miles Films, dan Mira Lesmana menyampaikan du
Pemkab Gunungkidul membahas rencana Ibarbo Park 2 di Kelok 23. Investor diminta memperhatikan perizinan, budaya lokal, dan kontribusi sosial.
Persita Tangerang unggul 1-0 atas PSM Makassar pada babak pertama BRI Super League 2026/2027. Gol Aleksa Andrejic tercipta pada menit ke-17.
Veda Ega Pratama finis ke-16 pada FP2 Moto3 Austria di lintasan basah. Brian Uriarte menjadi pebalap tercepat dengan waktu 1 menit 47,740 detik.
Alex Marquez mengungkap rem depan Ducati sempat terkunci saat kecelakaan di Practice MotoGP Austria. Ia tak cedera dan berhasil lolos ke Q2.