Anggaran Pilur Serentak Gunungkidul 2027 Naik Jadi Rp4,6 Miliar, Ini Alasannya
Pilur serentak Gunungkidul 2027 direncanakan di 55 kalurahan dengan kebutuhan anggaran Rp4,6 miliar, naik dari Rp2,6 miliar pada 2025.
Ilustrasi kondisi Embung Batur Agung di Padukuhan Karangwetan I, Gedangrejo, Karangmojo./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sedikitnya ada lima embung selesai dibangun di Gunungkidul akhir tahun ini. Diharapkan fasilitas dapat berdampak terhadap produktivitas hasil pertanian di sekitar embung.
Lima embung ini antara lain dibangun di Kalurahan Katongan, Nglipar; Gari dan Wareng di Kapanewon Wonosari. Adapun dua lainnya dibangun di Kalurahan Kepek, Saptosari dan Girisekar, Kapanewon Panggang.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, pembangunan embung ini merupakan program dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian. Total ada lima embung yang dibangun dengan nilai pembangunan Rp115 juta di setiap titiknya. “Sekarang masih proses dan perkembangan pengerjaan sudah mencapai 60 persen,” kata Rismiyadi, Kamis (30/11/2023).
Dia menjelaskan, pembangunan embung dengan sistem swakelola yang melibatkan kelompok tani penerima manfaat di wilayah sekitar. Embung ini memiliki luas 20 x 15 meter dan kedalaman sekitar tiga meter. “Target selesai di akhir tahun ini. Nanti setelah pengerukan selesai akan dipasangi lapisan geomembran oleh tim dari Kementerian Pertanian,” katanya.
Menurut Rismiyadi, lapisan geomembrane dipasang untuk mempertahankan debit air, khususnya pada saat musim kemarau. “Jadi didasar embung ada lapisan geomembrane sehingga air tidak terserap ke dalam tanah,” katanya.
Disinggung mengenai pembangunan embung, ia mengakui untuk mendukung dan meningkatkan produktivitas pertanian di lima kalurahan di Gunungkidul (sesuai penerima bantuan). Pembangunan merupakan implementasi dari teknologi panen hujan yang berfungsi untuk menampung air. “Dengan adanya embung diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air pertanian, khususnya saat musim kemarau sehingga petani tetap dapat bercocok tanam,” katanya.
Dia tidak menampik, di lima kalurahan yang meliputi Katongan, Wareng, Gari, Kepek dan Girisekar memiliki potensi pertanian yang bagus. Meski demikian, saat kemarau aktivitas ini berhenti karena ketiadaan sumber air untuk pemeliharaan.
“Jadi dibangun lah embung ini. Harapannya setelah jadi bisa dimanfaatkan sehingga produktivitas pertanian bisa terus meningkat dan petani mendapatkan hasilnya,” kata Rismiyadi.
BACA JUGA: Dua Embung dan Semua Sungai Jogja Tercemar, Ini Daftarnya
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, mayoritas lahan di Gunungkidul merupakan tadah hujan. Oleh karenanya, saat awal musim penghujan komoditas yang ditanam didominasi padi.
Kendati demikian, sambung dia, setelah masa panen pertama, luasan tanam padi akan menyusut untuk musim tanam kedua dan ketiga. Petani akan memilih jenis tanaman pangan lain yang tidak membutuhkan banyak air seperti jagung, kedelai dan lainnya.
“Untuk awal penghujan tahun ini ditargetkan luas tanam padi mencapai 48.000 hektare. Rinciannya, sebanyak 41.000 hektare lahan tadah hujan dan sisanya7.863 hektare merupakan lahan sawah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak Gunungkidul 2027 direncanakan di 55 kalurahan dengan kebutuhan anggaran Rp4,6 miliar, naik dari Rp2,6 miliar pada 2025.
Kemenhub mendorong KAI mempercepat pengadaan 35 KRL baru dan dua retrofit agar seluruhnya dapat beroperasi pada 2027.
Kemnaker menyiapkan pelatihan vokasi bagi 50.000 pekerja terdampak PHK. Simak bidang pelatihan, fasilitas, syarat, dan cara pendaftarannya.
Ekonomi 2027 menghadapi tantangan daya beli, pembiayaan UMKM, kualitas kredit, serta pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di DIY.
Realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Prabowo mencapai Rp3.923,2 triliun dan menyerap lebih dari 5,48 juta tenaga kerja.
Pemerintah mengaktifkan SIZE di Jawa-Bali untuk mendeteksi dini penyakit zoonosis melalui integrasi data kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.