8 SPPG di Gunungkidul Belum Beroperasi, Ribuan Siswa Tunggu MBG
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
Pertanian - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Musim hujan yang sempat menghilang DIY berpengaruh terhadap aktivitas pertanian di Sleman. Target luas tanam padi yang ada belum sesuai harapan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah mengatakan, di awal musim penghujan atau akhir 2023 ada target penanaman padi seluas 16.000 hektare. Namun demikian, hingga awal 2024 jumlah tersebut belum terealisasi.
Hal ini dikarenakan luas tanam yang terealisasi baru sekitar 8.500 hektare. Adapun sisanya sebanyak 7.500 hektare belum bisa ditanam.
Permasalahan ini diduga karena kekurangan air untuk perawatan. Terlebih lagi, sambung dia, hujan sempat menghilang di wilayah Sleman sehingga berpengaruh terhadap proses penanaman.
BACA JUGA: Sepekan ke Depan DIY Diprediksi Dilanda Cuaca Ekstrem, Ini Pemicunya
“Jadi mundur, padahal sudah ada yang membuat benih yang disemai. Tapi, tidak jadi ditanam karena kekurangan air,” katanya kepada wartawan, Kamis (4/1/2024).
Menurut Siti, sudah ada pemantauan dan mundurnya masa tana mini terjadi di beberapa titik di Kapanewon Prambanan, Mlati hingga wilayah Sleman bagian barat. “Tentunya kondisi ini akan berpengaruh pada mundurnya masa panen. Tapi, harapannya bisa tetap lancar sehingga hasilnya tetap bisa dioptimalkan,” katanya.
Ia mengakui, saat sekarang sudah mulai turun hujan sehingga dapat dimanfaatkan para petani untuk persiapan masa tanam yang baru. “Harus cepat digarap untuk memenuhi target tanam yang sempat mundur karena kemarau panjang,” katanya.
Sebelumnya, salah seorang petani di Kalurahan Tambakrejo, Tempel, Sleman, Fauzan mengatakan, di akhir November para petani di wilayahnya sempat senang karena hujan sudan turun. Upaya persiapan masa tanam mulai dilakukan dengan menyemai benih padi.
Namun memasuki pertengahan hingga akhir Desember hujan menghilang. Kondisi ini berdampak terhadap tanaman yang dimiliki petani.
Menurut dia, masa tanam kali ini mengalami kemunduran dibandingkan dengan pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, di akhir tahun sudah ditanam, tetapi sekarang masih dalam proses penyiapan lahan. “Ketiadaan hujan sangat berpengaruh. Beruntungnya masih ada aliran air dari Kali Jalakan untuk mengolah lahan, meski harus berbagi dengan petani lain,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
Belanja masyarakat RI masih tumbuh, tetapi tingkat tabungan melemah dan penggunaan pinjol, kartu kredit, serta paylater terus meningkat.
KPK menyebut peluang pemanggilan Perry Warjiyo dalam kasus CSR BI dan OJK bergantung pada kebutuhan penyidik dalam mengungkap perkara.
Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (MM FEB UI) secara resmi meresmikan At Thohir Vidya Loka
Lebih dari 3.800 orang meninggal akibat gelombang panas di Spanyol. Kebakaran hutan juga memicu evakuasi puluhan ribu warga.
Pemkot Jogja akan menertibkan replika plang Jalan Malioboro yang digunakan jasa foto usai video wisatawan dimintai bayaran viral.