Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Pengemis - Ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja sebagai destinasi wisata menjadi magnet tersendiri bagi gelandangan dan pengemis (gepeng). Sepanjang 2023, Satpol PP Kota Jogja telah menertibkan setidaknya 103 gepeng.
Kabid Penegakan Peraturan Perundang Undangan, Dodi Kurnoanto, menjelaskan sepanjang 2023 pihaknya telah menertibkan sebanyak 103 gepeng. “Itu di seluruh wilayah Kota Jogja, terakhir di 24 Desember 2023, kami kerja sama dengan Dinas Sosial, menertibkan di jalan Brigjen Katamso dan DI Panjaitan,” ujarnya, Jumat (6/1/2024).
Operasi gepeng dilakukan secara rutin dan jika ada laporan dari masyarakat. Meski demikian, setiap hari tim Satpol PP Kota Jogja juga stand by di wilayah Tugu, Malioboro dan kraton (Gumaton) untuk mencegah keberadaan gepeng. “Setiap hari ada kalau di Malioboro,” katanya.
Meski demikian, Satpol PP Kota Jogja belum menertibkan pengamen dengan sound system yang sekarang banyak bermunculan di simpang-simpang jalan. Hal ini dikarenakan jika mengacu pada Perda DIY No. 1/2024 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis, pengamen dengan sound system tidak masuk dalam definisi gepeng.
“Sebenarnya kalau mereka meminta-minta Sudha masuk kategori itu. Tapi masalahnya sekarang mereka sudah tidak pakai baju compang-camping. Sehingga debatable di lapangan. Nah di kami, selama mereka tidak terlalu mengganggu di suara, mabuk, masih bisa ditoleransi,” ungkapnya.
BACA JUGA: Temuan Dinsos DIY, Beragam Modus Gepeng Hingga Manusia Gerobak Bawa Uang Rp25 Juta
Namun untuk pengemis dengan menggunakan kostum badut dan manusia silver tetap ditertibkan. Ia memastikan saat ini jumlah manusia silver di Kota Jogja sudah sangat minim. “Di Kota Jogja untuk manusia silver sudah tidak ada, sudah sangat berkurang,” kata dia.
Adapun penanganan gepeng ada beberapa mekanisme, namun kebanyakan dikirimkan ke UPT Assessment di karanganyar milik Dinas Sosial DIY. Di sana gepeng diklasifikasikan dan dilakukan tindaklanjut oleh Dinas Sosial DIY sesuai hasil assessment tersebut.
“Kalau misal masih bisa dihubungi keluarganya, ada juga yang kami kembalikan ke keluarganya. Gepeng itu ada yang dari sekitar Jogja, ada yang dari luar daerah, ada yang tidak punya identitas sama sekali,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Warga Semin berburu emas di Kali Oya yang mengering saat kemarau. Aktivitas ini menjadi pekerjaan sampingan bagi petani yang kesulitan air.
Febrie Adriansyah diperiksa hampir 7 jam dan dicecar soal Tan Kian. Kuasa hukum menyebut Febrie tegas membantah menerima uang dari Tan Kian.
Jalan Baru Kretek-Girijati sepanjang 5 Km mulai uji coba open traffic 14-20 September 2026 dengan pembatasan kendaraan dan jam operasional.
Keterkaitan Boy Thohir dengan MGLV tercatat melalui PT Trinugraha Thohir yang memiliki 2,25% saham serta PT Trinugraha Thohir Harmoni sebesar 4,86%.
DPRD DIY meminta DTSEN tidak diterapkan kaku karena data bansos harus diuji dengan kondisi riil warga, termasuk pekerja informal dan pengguna pinjol.