Plataran Senopati Jogja Jadi Foodcourt, Berdayakan Eks Jukir
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Ilustrasi anak-anak mengukur tinggi badan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL–Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat realisasi prevalensi stunting di Bantul 2023 mencapai 6,45% dari target 8,5%. Realisasi prevalensi stunting Bantul 2023 pun telah di bawah target akhir renstra 2026 yang mencapai 7%. Dinkes Bantul mendorong kerja sama berbagai pihak untuk penanganan stunting.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Agus Tri Widiyantara menyampaikan meskipun begitu angka stunting di Bantul masih dalam kategori sangat tinggi. Berdasarkan catatan Dinkes Bantul tahun 2023 jumlah balita pendek dan sangat pendek ada 2.863 orang, jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan tahun 2022 yang mencapai 3.001 orang.
"Ada beberapa penyebab tingginya angka stunting di Bantul, antara lain karena pola asuh," katanya di RS Nur Hidayah, Sabtu (18/5/2024).
Baca Juga
Angka Stunting di Gunungkidul Diklaim Turun 1,3 Persen
15 Kelurahan di Jogja Masih Belum Mampu Tekan Stunting, Ini yang Dilakukan Pemerintah
Angka Stunting di Sariharjo Bantul Cukup Tinggi, Pemkab: Pola Asuh Jadi Penyebabnya
Menurut dia, ada banyak balita di Bantul yang diasuh oleh pengasuh atau kakek dan neneknya. Akibatnya, pola asuh yang terbentuk bukan hanya dari orang tua. Kemudian, tingginya angka stunting juga disebabkan pola makan yang tidak tepat.
Karena itu, Dinkes Bantul berupaya mengintervensi hal tersebut dengan memberikan sosialisasi kepada kader mengenai pemberian makanan pada bayi dan anak sehingga dapat memberikan pendampingan kader posyandu dapat memberikan pendampingan kepada keluarga dengan balita stunting.
Kemudian, beberapa balita stunting juga memiliki penyakit non infeksi dan kelainan bawaan yang berpengaruh pada tingginya angka stunting di Bantul. Selain itu menurutnya, ada pula bayi yang lahir dengan riwayat kelahiran dengan berat badan lahir rendah (BBLR dan panjang badan lahir rendah (PBLR). Untuk balita yang lahir dengan kondisi tersebut menurutnya, Dinkes Bantul melakukan intervensi dengan melakukan pemeriksaan dokter ahli, dan meningkatkan pemantauan kesehatan ibu hamil.
Kemudian, di Bantul ada banyak ibu bayi yang bekerja sehingga kesulitan memberikan air susu ibu (ASI) kepada bayinya. Hal itu juga diduga mempengaruhi angka stunting di Bantul. Dinkes Bantul pun berupaya mendorong agar ada pojok ASI di tempat kerja. Sehingga ibu bayi tetap dapat memberikan ASI pada bayinya.
Selain itu, untuk menurunkan prevalensi balita stunting juga telah dilakukan kampanye dan deklarasi penanggulangan stunting, ada pula peraturan bupati Bantul terkait penanganan stunting.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Plataran Senopati Jogja hadir sebagai foodcourt baru, berdayakan eks jukir dan pedagang terdampak.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Harga pangan nasional hari ini menunjukkan cabai rawit merah Rp78.500/kg, telur Rp33.950/kg. Simak daftar lengkap harga terbaru dari PIHPS.
Momen haru terjadi usai sidang tuntutan Nadiem Makarim. Ia merangkul sopir ojol yang datang memberi dukungan di Pengadilan Tipikor.
Satpol PP Bantul menertibkan puluhan spanduk dan rontek liar yang dipasang melintang di jalan dan dekat lampu lalu lintas.
Meta memakai AI untuk mendeteksi akun anak di bawah 13 tahun di Facebook dan Instagram tanpa verifikasi dokumen.