Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Ilustrasi pohon tumbang sebagai dampak bencana hidrometeorologi di Gunungkidul. /Harian Jogja
Harianjogja.com, SLEMAN—Status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Sleman berakhir pada 31 Mei 2024. Meski demikian, BPBD Sleman memutuskan untuk memperpanjang status ini hingga tiga bulan ke depan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sudah ditetapkan sejak 1 Desember 2023. Status ini awalnya akan berakhir pada 29 Februari 2024, tapi diputuskan untuk memperpanjang status tersebut hingga 31 Mei 2024. “Status perpanjangan sudah berakhir, tetapi akan diperpanjang lagi hingga 31 Agustus 2024,” kata Bambang, Senin (3/6/2024).
Dia menjelaskan, untuk perpanjangan status sudah dalam proses penerbitan SK yang dikeluarkan oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo. Adapun perpanjangan kedua dilakukan mengacu pada hasil koordinasi dengan BMKG.
Dia tidak menampik pada saat ini sudah memasuki musim kemarau, tapi ada informasi akan terjadi fenomena kemarau basah sehingga tetap harus diwaspadai. “Ada potensi dampak dari siklon tropis harus diwaspadai. Makanya status siaga darurat tetap diperpanjang hingga tiga bulan ke depan,” katanya.
Senada, Ketua Pelaksana BPBD Sleman, Makwan mengatakan perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi masih dalam proses persetujuan bupati.
BACA JUGA: Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Bantul Masih Diberlakukan
Dia menjelaskan, status ini diperpanjang sebagai bagian dari mitigasi bencana. Terlebih lagi, saat sekarang sering terjadi anomaly cuaca yang berdampak terjadinya musibah atau bencana alam. “Potensi kemarau tetap ada, makanya harus diwaspadai dengan adanya mitigasi bencana,” katanya.
Makwan memastikan seluruh personel yang dimiliki bersama dengan para relawan terus siaga dan siap diterjunkan pada saat terjadi peristiwa. “Semua kami siagakan untuk menghadapi ancaman dari bencana hidrometeorologi. Jadi, sewaktu-waktu dibutuhkan siap meluncur ke lokasi yang dibutuhkan,” ujar dia.
Berdasarkan hasil kajian peta kerawanan bencana, di Kabupaten Sleman ada beberapa potensi bencana mulai dari angin kencang, banjir, longsor. Upaya mitigasi terus dilakukan, tetapi masyarakat diminta ikut berpartisipasi agar hasilnya dapaat dimaksimalkan. “Harapannya tetap aman terkendali, tapi kewaspadaan dan kesiapsiagaan harus terus dijaga agar dampak dari bencana bisa ditekan sekecil mungkin,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.
IDAI mengingatkan bahaya heat stroke pada anak saat cuaca panas ekstrem akibat El Nino. Orang tua diminta atur aktivitas dan cairan.
Defisit APBN April 2026 turun ke Rp164,4 triliun, keseimbangan primer kembali surplus Rp28 triliun.