Kongres FPRB Kota Jogja Libatkan Unsur Pentahelix

Lugas Subarkah
Lugas Subarkah Selasa, 29 Oktober 2024 11:37 WIB
Kongres FPRB Kota Jogja Libatkan Unsur Pentahelix

Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Jogja, Yunianto Dwisutono (kiri) dan Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja, Nur Hidayat (kanan) membuka Kongres FPRB Kota Jogja, di Hotel Harper, Selasa (29/10/2024)./Harian Jogja-Lugas Subarkah

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja menggelar Kongres Forum Pengurangan Risiko bencana (FPRB), di Hotel Harper, Selasa (29/10/2024). Forum ini melibatkan unsur pentahelix untuk memudahkan koordinasi dan komunikasi kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja, Nur Hidayat, menjelaskan unsur pentahelix yang dilibatkan dalam FPRB yakni terdiri dari unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, media massa dan dunia usaha. “Forum ini semoga jadi jembatan, media konunikasi dan koordinasi yang melibatkan stakeholder pentahelix,” ujarnya.

FPRB sebelumnya baru terbentuk di tingkat prpvinsi, maka tahun ini BPBD Kota Jogja menargetkan terbentuknya FPRB kota jogja. “Kesadaran masyarakat terkait bencana semakin hari semakin meningkat. Yang menjadi tantangan dalam penguranan risiko bencana salah satunya yakni rendahnya kesadaran masuarakat,” katanya.

BACA JUGA: Seusai Bentuk KTB dan SPAB, Sosialisasi Bencana BPBD Kota Jogja Akan Sasar Pasar Tradisional

Kongres ini untuk membentuk kepengurusan FPRB Kota Jogja, setelah sebelumnya diawali dengan serangkaian diskusi, Kemudian puncaknya adalah pengukuhan pengurus FPRB Kota Jogja di Balaikota Jogja oleh PJ Walikota Jogja.

“Ke depan FPRB harapanya bisa menjadi mitra independen kebencanaan dari Pemkot Jogja. Harapannya bisa membuat suatu rencana kerja dan program, supaya tidak hanya terbentuk pengurus tapi kegiatannya ga ada,” ungkapnya.

Mewakili Sekda Kota Jogja, Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Jogja, Yunianto Dwisutono, menuturkan berdasarkan hasil kajian pengurangan risiko bencana, Kota Jogja memiliki tujuh potensi bahaya, meliputi banjir, wabah penyakit, cuaca ekstrim, gempa bumi, kegagalan teknologi, kekeringan dan letusan Gunung Merapi.

“169 kampung sudah dibentuk dan beri bantuan KTB [Kampung Tangguh Bencana]. Peran FPRB diharapkan menjadi mitra strategis bagi Pemkot Jogja dalam pengurangan risiko bencana, karena kalau diserahkan ke BPBD saja tanpa peran pentahelix, tidak akan terlaksana,” ungkapnya.

FPRB diharapkan bisa memperkuat kolaborasi pemangku kepentingan, bersinergi dalam berkolaborasi lintas sektor dan multi pihak. “Untuk menciptakan koordinasi efektif dalam penanggulangan bencana,” kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online