Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Relawan PATBM mengikuti penguatan kegiatan Sosialisasi Rencana Aksi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak dan Respon Kasus Di Wilayah, di DP3AP2KB Kota Jogja, beberapa waktu lalu./ist DP3AP2KB Kota Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Jogja terus menguatkan peran relawan di masyarakat untuk mencegah kekerasan terhadap anak.
Salah satu upayanya yakni melalui Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Dalam program ini, relawan yang ada di setiap kelurahan bertugas melaksankana upaya preventif pencegahan kekerasan terhadap anak di wilayahnya masing-masing.
Kepala DP3AP2 Kota Jogja, Retnaningtyas, menjelaskan PATBM sudah dibentuk cukup lama. Keanggotaan relawan di dalamnya berbasis kelurahan. “Jadi PATBM ada di 45 kelurahan di Kota Jogja. Masing-masing kelurahan rata-rata lima sampai 10 orang pengurusnya,” ujarnya, Senin (10/2/2025).
PATBM ini bertugas menjembatani ketika terjadi permasalahan terkait anak di wilayah antara pihak-pihak terkait. “Baik dengan OPD [Organisasi Perangkat Daerah], Puspaga [Pusat Pembelajaran Keluarga] kalau membutuhkan pendampingan dan pihak lainnya,” kata dia.
Relawan PATBM juga memberi edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait hak-hak anak, perlindungan anak dan sebagainya. “PATBM juga berfungsi melakukan pendampingan-pendampingan terkait permasalahan anak di wilayah,” ungkapnya.
Dalam menjalankan perannya, PATBM sebenarnya tidak bergerak sendiri. Mereka dibantu dengan kelompok relawan lainnya, seperti satgas Siap Gerak Atasi kekerasan (Sigrak), Sahabat Perempuan dan Anak (Sapa), Mitra Keluarga dan lainnya. “Mereka saling membantu untuk melakukan edukasi mencegah kekerasan terhadap anak,” ujarnya.
Sepanjang 2024, ia mencatat terdapat sebanyak 85 laporan kekerasan terhadap anak di Kota Jogja. Jumlah ini terus meningkat setiap tahun. “Data kekerasan cenderung meningkat tiap tahunnya karena masyarakat sekarang semakin paham terkaiat kekerasan dan tahu kemana melapornya Sehingga tidak seperti fenomena gunung es,” paparnya.
Ketika mendapati laporan kekerasan terhadap anak, Puspaga atau Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) akan segera melakukan assessment. “nanti tergantung hasilnya seperti apa. Butuh pendampingan seperti apa. Apakah cukup secara psikologis aja atau sampai ke ranah hukum,” ungkapnya.
Ada beberapa bentuk kekerasan terhadap anak, antara lain kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan pengabaian. Adapun faktor penyebab kekerasan anak yaitu kemiskinan, masalah hubungan sosial, penyimpangan perilaku sosial dan lemahnya kontrol sosial primer masyarakat dan hukum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Destry Damayanti ditunjuk sebagai Gubernur sementara BI. LHKPN mencatat total harta kekayaannya mencapai lebih dari Rp100,236 miliar.
Bareskrim Polri menangkap AKP Pardiman dan lima anggota Polres Tangsel terkait dugaan narkoba. Polri menegaskan tidak ada impunitas.
Rupiah ditutup melemah ke Rp18.009 per dolar AS setelah Perry Warjiyo mundur. Pasar menyoroti sentimen geopolitik dan risiko fiskal.
Polresta Banyumas memeriksa sedikitnya 10 saksi untuk mengusut ambruknya tribun VIP Drift Speed Fest yang melukai sekitar 83 penonton.
Galaxy Watch Ultra2, smartwatch yang memadukan fitur pendukung aktivitas luar ruang dengan insight kesehatan berbasis AI melalui Samsung Health.