Pemkot Jogja Optimalkan Pengolahan Sampah di Hilir, Target 230 Ton Perhari

Alfi Annisa Karin
Alfi Annisa Karin Sabtu, 22 Februari 2025 18:27 WIB
Pemkot Jogja Optimalkan Pengolahan Sampah di Hilir, Target 230 Ton Perhari

Salah satu lokasi pengolahan sampah milik Pemkot Jogja, TPS 3R Nitikan yang diabadikan pada 2 Mei 2024 – Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin

Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja menempatkan problem sampah menjadi isu strategis untuk dapat segera terselesaikan. Dari sisi hulu, masyarakat didorong untuk bisa melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dengan berbagai teknik yang sudah disosialisasikan Pemkot Jogja sebelumnya.

Misalnya, sampah organik yang bisa diolah dengan memanfaatkan keberadaan biopori, ember tumpuk, hingga komposter. Sementara untuk sampah anorganik bisa diserahkan ke bank sampah terdekat ataupun diolah kembali menjadi barang yang mempunyai nilai guna.

BACA JUGA : Hari Pertama Kerja, Hasto-Wawan Luncurkan Hari Peduli Sampah Nasional

Selain di sisi hulu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyebut pihaknya juga akan memaksimalkan pengelolaan sampah di hilir. Ada berbagai cara pengelolaan sampah di tingkat hilir yang bisa ditempuh untuk memastikan persoalan sampah di Kota Jogja bisa tuntas segera. Misalnya, dengan mengolah sampah menjadi RDF dan memanfaatkan alat pembakar sampah atau insinerator.

“Dengan waktu yang singkat ini, kita tambahlah kemampuan untuk menyelesaikan di hilir,” ujar Hasto.

Hasto menargetkan, sampah yang diolah di hilir paling tidak mencapia 230 ton perhari. Sebab, kini Kota Jogja masih menyimpan pekerjaan rumah untuk menyelesaikan sampah timbunan di depo yang mencapai lebih dari 1.600 ton.

“Kalau tidak [sampai] 230 ton sulit menyelesaikan di hilir ini. Misalkan sehari [hanya] bisa 50 ton sudah butuh berapa hari,” katanya.

Pada 100 hari pertama kepemimpinannya, Hasto berupaya untuk mengubah pemandangan sampah dengan mengurangi titik-titik pembuangan sampah ilegal dan mengurangi bobot sampah di depo. Selain itu, dia juga menargetkan ada perubahan perilaku masyarakat untuk dapat mengolah sampah secara mandiri.

BACA JUGA : Kota Jogja Terancam Tumpukan Sampah di Bulan Ramadan, Ini Komentar Sekda DIY

“100 hari itu bukan selesai tata kelolanya, tapi merubah pandangannya. Saya sebagai dokter ada fenotip ada genotip. Fenotinya, kasat matanya sampah masih menumpuk. Tapi dibalik fenotip ada genotip, ada gennya. Ada perilaku yang tidak bagus. Untuk merubah perliakunya butuh regulasi yang panjang untuk merubah yang kasat mata bisa 100 hari meskipun belum 100 persen,” ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online