Festival Jeron Beteng Jogja, Ada Layang-Layang hingga Pawai Ogoh-Ogoh
Event ini merupakan upaya Dispar dalam rangka memperkenalkan destinasi Njeron Benteng sekaligus destinasi wisata Jogja sisi selatan.
Salah satu lokasi pengolahan sampah milik Pemkot Jogja, TPS 3R Nitikan yang diabadikan pada 2 Mei 2024 – Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja menempatkan problem sampah menjadi isu strategis untuk dapat segera terselesaikan. Dari sisi hulu, masyarakat didorong untuk bisa melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dengan berbagai teknik yang sudah disosialisasikan Pemkot Jogja sebelumnya.
Misalnya, sampah organik yang bisa diolah dengan memanfaatkan keberadaan biopori, ember tumpuk, hingga komposter. Sementara untuk sampah anorganik bisa diserahkan ke bank sampah terdekat ataupun diolah kembali menjadi barang yang mempunyai nilai guna.
BACA JUGA : Hari Pertama Kerja, Hasto-Wawan Luncurkan Hari Peduli Sampah Nasional
Selain di sisi hulu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyebut pihaknya juga akan memaksimalkan pengelolaan sampah di hilir. Ada berbagai cara pengelolaan sampah di tingkat hilir yang bisa ditempuh untuk memastikan persoalan sampah di Kota Jogja bisa tuntas segera. Misalnya, dengan mengolah sampah menjadi RDF dan memanfaatkan alat pembakar sampah atau insinerator.
“Dengan waktu yang singkat ini, kita tambahlah kemampuan untuk menyelesaikan di hilir,” ujar Hasto.
Hasto menargetkan, sampah yang diolah di hilir paling tidak mencapia 230 ton perhari. Sebab, kini Kota Jogja masih menyimpan pekerjaan rumah untuk menyelesaikan sampah timbunan di depo yang mencapai lebih dari 1.600 ton.
“Kalau tidak [sampai] 230 ton sulit menyelesaikan di hilir ini. Misalkan sehari [hanya] bisa 50 ton sudah butuh berapa hari,” katanya.
Pada 100 hari pertama kepemimpinannya, Hasto berupaya untuk mengubah pemandangan sampah dengan mengurangi titik-titik pembuangan sampah ilegal dan mengurangi bobot sampah di depo. Selain itu, dia juga menargetkan ada perubahan perilaku masyarakat untuk dapat mengolah sampah secara mandiri.
BACA JUGA : Kota Jogja Terancam Tumpukan Sampah di Bulan Ramadan, Ini Komentar Sekda DIY
“100 hari itu bukan selesai tata kelolanya, tapi merubah pandangannya. Saya sebagai dokter ada fenotip ada genotip. Fenotinya, kasat matanya sampah masih menumpuk. Tapi dibalik fenotip ada genotip, ada gennya. Ada perilaku yang tidak bagus. Untuk merubah perliakunya butuh regulasi yang panjang untuk merubah yang kasat mata bisa 100 hari meskipun belum 100 persen,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Event ini merupakan upaya Dispar dalam rangka memperkenalkan destinasi Njeron Benteng sekaligus destinasi wisata Jogja sisi selatan.
KPK menjadwalkan ulang pemeriksaan Muhadjir Effendy dalam kasus dugaan korupsi kuota haji setelah saksi meminta penundaan.
Bank Kulonprogo meraih TOP Golden Trophy 2026 lewat program kredit UMKM dan pembiayaan bagi PPPK Paruh Waktu.
Polsek Pundong mengungkap kasus pengeroyokan di Jalan Parangtritis Bantul. Lima pelaku diamankan usai aniaya pemuda.
Kemlu RI memastikan seluruh 39 WNI korban kapal tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Malaysia, telah ditemukan.
Presiden Prabowo menegaskan penambahan alutsista TNI AU seperti Rafale untuk memperkuat pertahanan Indonesia di tengah geopolitik global.