Dua SPPG di Kulonprogo Disuspend, Pengawasan MBG Diperketat
Dua SPPG di Kulonprogo masih disuspend. Pemkab memperketat pengawasan SOP dan mendorong seluruh pengelola melengkapi perizinan.
Petani Melon - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO - Nasib kurang mengenakan dialami para kalangan petani di pesisir Kabupaten Kulonprogo. Pasalnya, mengalami kerugian jutaan rupiah akibat hasil panen yang tidak laku ke pasaran. Penyebab utamanya karena adanya kemarau basah sehingga melon dan semangka tidak menarik minat di pasaran.
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo menganggap kondisi ini bukan berarti gagal panen. Meskipun, serapan hasil pertanian di bagian pesisir yang mayoritas tanaman melon dan semangka ada juga yang juga terkena penyakit.
Ketua Tim Kerja Pengawas Mutu Hasil Pertanian DPP Kulonprogo, Udiarto Iswaluyo menjelaskan, petani melon dan semangka di pesisir tersebut meliputi Kapanewon Galur, Panjatan, Wates, dan Temon. Luasan lahan pertanian melon dan semangka di pesisir empat kapanewon tersebut sekitar 35 hektare. "Bukan gagal panen, karena hujan terus-menerus harganya anjlok," katanya, Selasa (10/6/2025).
Dia mengungkapkan, ketika cuaca hujan melon dan semangka tidak diminati konsumen.
Sebab karena kondisi udara yang dingin sehingga hasil petani melon dan semangka di pesisir Kulonprogo tidak ada yang dibawa ke pasar karena minatnya minim. Efek dominonya penebas buah enggan menebusnya meskipun sudah memberikan DP ke petani karena takut rugi lebih banyak.
"Harga tebasan hanya 20 persen sampai 50 persen dari modal yang dikeluarkan petani. Akhirnya banyak yang tidak dipanen petani dibiarkan lepas dari tangkainya karena kena hujan," sambungnya.
BACA JUGA: Perahu Nelayan di Pantai Glagah Karam, Tiga ABK Dapat Diselamatkan
Padahal, Udiarto mengatakan, melon dan semangka tersebut sudah terlanjur diethrel atau pemasakan buah. Menurutnya, risiko seperti ini biasa terjadi ketika hujan terus-menerus. Petani sudah jelas merugi sehingga banyak tani yang akhirnya tidak diobati sampai terkena penyakit.
"Jadi seolah-olah kesannya gagal panen, padahal bukan," ucapnya. Udiarto tidak membantah, akibat kejadian ini para petani melon dan semangka alami kerugian mencapai jutaan rupiah. Pasalnya, dari luasan lahan yang ditanami hanya 80 persen saja yang bisa dijual. Itu pun harganya tidak utuh hanya 40 persen dari nilai jual normal.
"Modal petani Rp10 juta panen lakunya hanya Rp4 jutaan sampai nilai maksimalnya mentok Rp6 jutaan," ungkap Udiarto. Menurutnya, nilai kerugian itu bisa saja lebih besar. Itu lantaran harga normalnya ketika penebas membeli 400-500 tanaman minimal membayar Rp5 juta ke petani. Besaran harga tersebut modal yang dikeluarkan petani untuk menanam melon dan semangka sekitar Rp2 jutaan.
Namun, pada kemarau basah ini penebas membeli 400-500 tanaman hanya Rp1 juta-Rp1,5 juta padahal modal yang dikeluarkan Rp2 jutaan.
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan DPP Kulonprogo, Juliwati menambahkan, kondisi tersebut bukan gagal panen. Melainkan memang harga jualnya yang murah karena ketika panen diguyur hujan selama tujuh hingga 10 hari. "Hujan terus-menerus akhir-akhir ini karena ada siklus kemarau basah," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua SPPG di Kulonprogo masih disuspend. Pemkab memperketat pengawasan SOP dan mendorong seluruh pengelola melengkapi perizinan.
Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon lahirkan anak pertama, Segara Nadi Aksatama, pada 20 Juli 2026. Nama sarat makna, banjir ucapan selamat dari artis dan netize
Dinkes Bantul mengungkap paparan rokok dalam keluarga menjadi faktor terbesar penyebab stunting. Angka stunting turun menjadi 8,3 persen, namun tantangan masih
Menunda servis mobil atau motor bisa memicu kerusakan berantai dan biaya perbaikan yang mahal. Simak dampak serta cara mencegahnya.
China masih menjadi produsen kendaraan terbesar dunia pada 2025. Berikut daftar lima negara dengan industri otomotif terbesar yang mendominasi pasar global.
Keputusan BTS tidak mengikuti Grammy Awards 2027 kembali memicu perdebatan soal transparansi penghargaan musik dunia. Berikut deretan musisi yang pernah mengkri