Polisi Tangkap Demonstran di DPRD DIY, Massa Aksi Diserang Kelompok Tak Dikenal
Polda DIY mengamankan sejumlah demonstran saat aksi di DPRD DIY pada Selasa (20/10/2026). Polisi menyebut terjadi pelemparan batu dan petasan.
Pedagang cabai rawit merah. - Foto ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—PT Petani Milenial Sleman bersama Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) dan Champion Cabai Indonesia melakukan ekspor salah satu varietas cabai rawit ke beberapa negara Asia, seperti Jepang. Ekspor ini menjadi cara untuk menahan harga cabai agar tetap di atas Break Even Point (BEP).
CEO PT Petani Milenial Sleman, Isnaini Baroroh, mengatakan ekspor yang lakukannya dapat menghindarkan petani dari kerugian akibat anjloknya harga cabai di pasaran. Sebab itu, ada rencana perluasan ekspor ke negara-negara di timur tengah.
Isnaini menjelaskan harga cabai sempat jatuh mendekati BEP. PT Milenial Sleman kemudian membeli cabai petani di atas BEP dan menjualnya ke luar negeri. Harga per kilogram (kg) cabai rawit sempat menyentuh Rp17.000 – Rp18.000.
“Kami kemudian membeli di harga Rp20.000. Biar pertani tidak merugi. Terus kami ekspor ke luar negeri,” kata Isnaini dihubungi, Minggu (10/8/2025).
BACA JUGA: Tol Jogja-Solo: Kontraktor Akan Beri Tali Asih 2 Lahan Sultan Ground
Isnaini menambahkan PT Petani Milenial Sleman berupaya menyerap cabai rawit 9 ton tiap pekannya. Mereka akan menyimpan cabai itu di coldstorage sebelum diekspor ke luar negeri. Per hari, perseroan bisa mengekspor 1 ton cabai.
Perseroan berupaya agar cabai dapat diekspor ke banyak negara. Perluasan ekspor kemungkinan menyasar ke Arab Saudi. Kebutuhan cabai di luar negeri memang besar. Namun, saat ini mereka baru bisa mengekspor 1 ton per hari.
“Kami baru trial and error. Prinsipnya, kalau harga cabai turun di tingkat petani, kami beli dan kami ekspor ke luar negeri,” katanya.
Disinggih ihwal kendala, cabai busuk dan hama patek menjadi faktor yang menurunkan nilai dan kualitas cabai. Cabai yang diekspor haruslah petik tangkai. Cabai yang masih bertangkai akan cepat membusuk meski masuk lemari pendingin.
Guna menjaga mutu ini, PT Milenial Sleman bekerja sama dengan kelompok wanita tani (KWT), dan masyarakat.
“Kerja sama dengan KWT juga bisa memberi tambahan penghasilan, terkhusus ibu rumah tangga yang tergabung di dalamnya,” ucapnya.
Ketua Komda Petani Milenial Sleman, Taufik Mawaddani, mengatakan keberhasilan mempertahankan harga cabai di atas BEP adalah kebahagiaan petani dan tujuan PT Petani Milenial Sleman.
“Kami ingin wadah Petani Milenial Sleman selalu bermanfaat untuk siapa pun, khususnya para petani di Sleman dan sekitarnya,” kata Taufik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polda DIY mengamankan sejumlah demonstran saat aksi di DPRD DIY pada Selasa (20/10/2026). Polisi menyebut terjadi pelemparan batu dan petasan.
BKPM mencabut IUP PT Kristalin Ekalestari di Papua setelah ditemukan pembukaan lahan tambang di kawasan hutan tanpa persetujuan kehutanan.
Pemkab Temanggung mengalokasikan Rp6,9 miliar untuk pembangunan jaringan irigasi air tanah di empat lokasi yang ditargetkan rampung akhir 2026.
Sultan HB X mengingatkan Karang Taruna agar mengutamakan dampak nyata bagi warga melalui inovasi sosial, pemberdayaan, dan kolaborasi.
Simak simulasi UMK Jawa Tengah 2027 jika naik 9,5%. UMK Kota Semarang diproyeksikan mencapai Rp4,05 juta, disusul Demak dan Kendal.
Cek jadwal SIM Gunungkidul Sabtu, 24 Oktober 2026, di Toserba Sambipitu, lengkap dengan lokasi layanan lain dan syarat perpanjangan SIM.