Tujuh Kambing Mati Mendadak, 5 Warga Semanu Suspek Antraks
Tujuh kambing mati mendadak di Semanu, Gunungkidul. Lima warga mengalami luka kulit dan menjadi suspek antraks, hasil lab masih ditunggu.
Droping air BPBD Gunungkiul./Ist- dok BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul mencatat hingga akhir September baru menyalurkan bantuan air bersih sebanyak delapan tangki. Jumlah ini, masih jauh dari alokasi yang disediakan sebanyak 1.500 tangki di 2025.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, pihaknya masih menunggu permintaan resmi berkaitan dengan penyaluran bantuan air bersih. Hingga sekarang, kata dia, baru satu permintaan dengan mengirimkan bantuan sebanyak delapan tangki ke warga di Padukuhan Kemesu, Semugih, Rongkop.
BACA JUGA: Pemkab Gunungkidul Bangun Drainanse di Alun-Alun Wonosari Senilai Rp848 Juta
“Droping kami laksanakan 16 September 2025. Setelah itu, belum ada permintaan lagi berkaitan dengan bantuan air bersih,” kata Sumadi, Jumat (26/9/2025).
Menurut dia, kuota bantuan masih banyak tersedia. Pasalnya, di tahun ini, pemkab mengalokasikan bantuan air bersih sebanyak 1.500 tangki.
“Yang terserap baru delapan tangki, makanya kami masih menunggu permintaan resmi agar bisa menyalurkan bantuan air bersih,” ungkapnya.
Meski belum terserap secara maksimal, Sumadi mengaku tidak khawatir. Ia berdalih, pagu anggaran masih tetap bisa digunakan, tapi saat tahun anggaran berakhir dan dananya masih tersisa, maka akan dikembalikan ke kas daerah.
“Jadi kalau masih ada sisa, maka akan dikembalikan ke pemkab,” katanya.
Menurut dia, fenomena kemarau basah yang terjadi di tahun ini ikut memberikan pengaruh terhadap penyaluran bantuan. Meski sudah memasuki musim Kering, namun masih terjadi hujan sehingga berdampak terhadap stok air di masyaarakat.
“Makanya penyaluran yang diberikan ke warga belum banyak karena stok di masyarakat masih ada,” katanya.
Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini mengatakan, krisis air bersih menjadi masalah yang belum terselesaikan saat musim kemarau. Ia mengakui program droping air bukan menjadi solusi jangka panjang.
“Hanya solusi sementara, makanya kami dorong pemkab untuk memikirkan solusi jangka panjang sehingga masalah krisis air bersih di musim kemarau dapat teratasi,” kata Endang.
Meski demikian, pihaknya juga terus mendorong agar pelaksanaan penyaluran bantuan air bersih juga semakin dipercepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan di Masyarakat. Adapun solusi jangka panjang yang ditawarkan bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Selain menemukan potensi sumber-sumber baru yang dilengkapi dengan program konsevasi air, juga bisa dilakukan dengan upaya perluasan layanan PDAM. Di sisi lain, juga dibutuhkan pembangunan embung sebagai tempat penampungan air yang dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar.
“Sebenarnya potensi sumber air di Gunungkidul banyak karena memiliki sejumlah sungai bawah tanah. Ini bisa dimanfaatkan untuk perluasan jaringan air bersih ke Masyarakat, sehingga tidak lagi mengalami krisis saat kemarau,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tujuh kambing mati mendadak di Semanu, Gunungkidul. Lima warga mengalami luka kulit dan menjadi suspek antraks, hasil lab masih ditunggu.
Normalisasi Jalan Selokan Mataram Sleman dilanjutkan. Sebanyak 11 bidang lahan akan dibebaskan pada 2027 untuk pelebaran jalan.
Kualitas tidur berperan penting menjaga kesehatan otak. Kurang tidur dapat memengaruhi memori, konsentrasi hingga fungsi kognitif.
Perkumpulan Politeknik Swasta Indonesia (PELITA) akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V pada 14–17 Oktober 2026 di Makassar
Presiden Prabowo menunjuk Dedi Prasetyo sebagai Kepala Badan Reforma Agraria pada 1 Oktober 2026 setelah sebelumnya menjabat Wakapolri.
Kabut asap menurunkan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi. Enam penerbangan mengalami keterlambatan hingga pukul 11.00 WIB.