219 Kafilah Ikuti STQH Kota Jogja, Hasto Minta Pembinaan Diperkuat
Sebanyak 219 kafilah dari 14 kemantren mengikuti STQH Kota Jogja 2026. Hasto mendorong penguatan pembinaan keagamaan secara berkelanjutan.
Pengendara melintas di Jembatan Kewek pada Minggu (23/11/2025). Pemkot Jogja berencana merehabilitasi jembatan tersebut tahun depan. Harian Jogja/Stefani Yulindriani
Harianjogja.com, JOGJA—Keputusan soal keberlanjutan rekayasa lalu lintas Kotabaru akan diputuskan Pemkot Jogja akhir pekan ini setelah melakukan evaluasi dampak penutupan Jembatan Kewek.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengonfirmasi bahwa evaluasi akan dilakukan pada akhir pekan ini.
“Malam ini sangat menentukan karena sudah masuk malam Sabtu. Biasanya weekend [akhir pekan] menjadi barometer kondisi lalu lintas,” katanya, Jumat (12/12/2025).
Hasto menjelaskan bahwa rekayasa lalin yang diterapkan utamanya berfokus pada kawasan sekitar Kleringan (seharusnya Kléérigan, namun dalam konteks Jembatan Kewek, penulisan Kleringan/Klérigan/Kliringan sering digunakan) dan dipicu oleh penutupan Jembatan Kewek secara parsial. Penutupan dilakukan dengan memasang tiang pembatas untuk membatasi kendaraan besar melintas.
“Rekayasa itu sumbernya dari Jembatan Kewek. Kendaraan besar dibatasi, hanya kendaraan kecil yang bisa melintas,” ujarnya.
Dia mengakui bahwa penerapan rekayasa ini telah menyebabkan peningkatan kepadatan lalu lintas di kawasan Kotabaru, terutama di sekitar Gereja Katolik Santo Antonius Padua Kotabaru, Stadion Kridosono, dan Simpang Gramedia. Kepadatan ini diperkirakan akan makin meningkat pada akhir pekan.
Untuk mengantisipasi lonjakan lalin, Pemkot akan mengerahkan petugas. “Saya akan mengerahkan petugas-petugas di depan Gramedia untuk melakukan seleksi kendaraan di situ, untuk mengatur buka tutupnya,” imbuhnya.
Pengaturan Bus Wisata dan Pelanggaran Putar Balik
Selain penambahan personel, Pemkot Jogja juga akan memosisikan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja di beberapa titik saat terjadi kepadatan lalin. Langkah ini untuk memastikan bus wisata yang datang dari Jalan Solo dan Jalan Magelang diarahkan melalui Ringroad Barat dan Timur, kemudian parkir di Tempat Khusus Parkir (TKP) Ngabean.
Meski rekayasa telah berjalan, masih ditemukan pengendara yang memutar balik pada penggalan separator jalan di depan Gereja Katolik Santo Antonius Padua Kotabaru, padahal area tersebut dilarang untuk putar balik.
Menanggapi pelanggaran tersebut, Hasto menyatakan akan mengecek kondisi di lapangan.
“Nanti saya cek apakah itu [melintas di penggalan separator jalan] karena dampak rekayasa di Klirigan [Klérigan] atau faktor lain,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 219 kafilah dari 14 kemantren mengikuti STQH Kota Jogja 2026. Hasto mendorong penguatan pembinaan keagamaan secara berkelanjutan.
Empat wisatawan terseret ombak Pantai Jungwok Gunungkidul saat hendak berfoto. Seorang wisatawan asal Solo meninggal dunia.
Kemenhub mendirikan posko darurat di Pelabuhan Trisakti untuk menangani insiden Kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di Masalembo.
DPRD DIY mendorong penanganan kekeringan melibatkan seluruh OPD, tidak hanya BPBD, dengan dukungan koordinasi dan anggaran memadai.
Debit Sungai Tinalah Kulonprogo surut saat kemarau. Kondisi ini membuat wisata keceh diminati, tetapi wisatawan diminta tetap waspada.
Kejagung mengungkap Ferry Boboho mengembalikan Rp5 miliar pada Agustus 2026. Uang itu bagian dari Rp40 miliar Tan Kian.