Sepekan Dikelola KAI Commuter, Penumpang KA Bandara YIA Capai 8.000 per Hari
Sepekan dikelola KAI Commuter, KA Bandara YIA melayani hingga 8.000 penumpang per hari saat akhir pekan dengan 50 perjalanan.
Pasar Sentul Jogja - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Lesunya aktivitas jual beli di Pasar Sentul seusai revitalisasi mendorong Pemerintah Kota Jogja menyiapkan kebijakan keringanan retribusi, dengan Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo memastikan tidak ada kenaikan sewa lapak dan bahkan memberikan potongan agar pedagang tetap bertahan.
Keluhan pedagang mencuat karena pasar yang kini tampil lebih rapi justru belum diiringi peningkatan jumlah pengunjung. Kondisi itu sempat memunculkan kekhawatiran lantaran Pemkot Jogja sebelumnya merencanakan penyesuaian tarif sewa lapak pada tahun ini.
Hasto Wardoyo menegaskan, rencana tersebut dibatalkan. Pemkot tidak hanya menahan kenaikan, tetapi juga memberikan dispensasi pembayaran agar tidak memberatkan pedagang.
“Sudah kami diskusikan. Tidak ada kenaikan, malah ada diskon, khususnya untuk pedagang di lantai tiga,” katanya saat ditemui di Sungai Code, Rabu (21/1/2026).
Sebelum revitalisasi, pedagang Pasar Sentul menempati lapak dengan biaya retribusi bersubsidi sekitar Rp170.000 per bulan. Sementara tarif normal yang dipatok Pemkot Jogja untuk lapak kuliner mencapai Rp700.000 per bulan.
Menurut Hasto, revitalisasi pasar tidak cukup hanya menghadirkan bangunan yang bersih dan tertata. Upaya tersebut harus sejalan dengan jaminan bahwa roda ekonomi pedagang tetap berputar.
Ia mendorong Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja sebagai pengelola pasar untuk lebih kreatif menghadirkan kegiatan yang mampu menghidupkan kembali Pasar Sentul dan menarik arus pengunjung.
“Saya minta ada kreativitas, misalnya pasar murah atau kegiatan lain supaya pasar ramai dan menarik pengunjung,” katanya.
Di sisi lain, pedagang makanan ringan Pasar Sentul, Narsih, mengaku pendapatannya merosot tajam seusai revitalisasi.
“Kalau sekarang susah [pendapatan harian pedagang]. Sehari dapat untung Rp20.000 saja sudah sulit,” katanya.
Ia bercerita, sebelum direvitalisasi lapaknya berada di bagian depan pasar dengan ukuran lebih luas. Seusai penataan ulang, ia menempati lapak yang lebih sempit dan berada di bagian belakang. Posisi tersebut membuat dagangannya jarang dilirik pembeli.
“Dulu lapak saya dua kali lebih luas. Sekarang [ukuran lapak] cuma sekitar dua meteran dan di belakang. Pembeli juga jarang lewat,” katanya.
Narsih menyebut, sebelumnya pendapatan harian masih cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kini, ia kerap membawa bekal dari rumah untuk menghemat biaya makan siang selama berdagang.
“Kadang sehari tidak ada yang beli sama sekali. Jadi harus bawa sangu dari rumah,” katanya.
Ia juga menilai penataan jenis dagangan menjadi persoalan. Pengelompokan pedagang berdasarkan segmentasi dianggap menyulitkan pembeli.
“Sekarang semua diplot-plot. Dulu mau jual apa saja bebas. Sekarang tidak boleh,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang rujak es krim Pasar Sentul, Sri Rahayu. Dalam sehari, rata-rata hanya sekitar lima pembeli yang datang ke lapaknya. Kondisi itu membuat omzet hariannya tak sampai Rp100.000. Ia mengaku keberatan jika Pemkot Jogja tetap menaikkan retribusi sewa lapak.
“Kalau begini terus kami yang kesusahan,” katanya, di tengah upaya pedagang bertahan sembari menunggu pasar kembali hidup.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sepekan dikelola KAI Commuter, KA Bandara YIA melayani hingga 8.000 penumpang per hari saat akhir pekan dengan 50 perjalanan.
Gibran meminta investigasi dugaan keracunan MBG di Batang dituntaskan secara transparan dan korban mendapat penanganan hingga pulih.
Parkir berbayar di Lapangan Pemda Sleman dikritik karena dinilai membatasi akses ruang publik. Warga meminta fasilitas publik tetap mudah diakses.
Kalapas Cibinong nonaktif Wisnu Hani Putranto mengakui memerintahkan pemindahan barang setelah temuan Ombudsman RI.
Guru SD Negeri Ledoknongko Sleman terluka diserang wali murid menggunakan parang. Polisi menyebut insiden diduga dipicu miskomunikasi.
Warmindo di Mlati Sleman terbakar diduga akibat kebocoran gas yang memicu ledakan. Tiga karyawan mengalami luka bakar.