GKR Hemas: Daycare Wajib Berizin, Orang Tua Diminta Aktif Awasi
GKR Hemas dsoroti daycare ilegal di Jogja, tekankan izin dan pengawasan usai kasus kekerasan anak.
Putri-putri Sri Sultan HB X secara simbolis menyerahkan hasil bumi kepada bupati dan wali kota di depan Bangsal Pagelaran Kraton, Kamis (2/4/2026). Harian Jogja/Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Hasil bumi yang dikumpulkan dari 438 kalurahan dan kelurahan se-DIY dalam rangka Mangayubagya Yuswo Dalem ke-80 Sri Sultan HB X akhirnya disalurkan kembali kepada masyarakat melalui bupati dan wali kota, Kamis (2/4/2026).
Distribusi tersebut menjadi tahapan lanjutan setelah kirab pamong berakhir di Bangsal Pagelaran Kraton, di mana seluruh hasil bumi dikumpulkan dalam satu titik sebelum diserahkan secara simbolis sekitar pukul 11.00.
Beragam komoditas turut terkumpul dalam kegiatan ini, mulai dari sayur, buah, palawija hingga produk UMKM. Seluruh hasil bumi itu kemudian diserahkan oleh Sri Sultan HB X yang diwakili putri-putrinya kepada para kepala daerah untuk didistribusikan ke warga yang membutuhkan di wilayah masing-masing.
Sri Sultan HB X menyampaikan apresiasi kepada para pamong yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia berharap hasil bumi yang dihimpun dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semoga semuanya juga sama-sama sehat. Hasil bumi yang diberikan bagus-bagus, saya kembalikan ke mereka lagi, saya serahkan secara simbolik ke bupati wali kota dengan harapan bisa dibagi rata dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Bupati Bantul, Halim Muslih, mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut sekaligus mendoakan Sri Sultan HB X agar senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyalurkan hasil bumi tersebut secara optimal kepada masyarakat. “Sehingga kami bupati-wali kota sebagai pembantu beliau bisa turut mendukung memberikan kinerja yang lebih baik di daerah masing-masing,” katanya.
Ketua Paguyuban Lurah Nayantaka, Gandang Hardjanata, menilai kegiatan ini menjadi representasi nyata semangat gotong royong masyarakat DIY. Menurutnya, hasil bumi yang diserahkan ke Kraton pada akhirnya kembali lagi ke masyarakat melalui pemerintah daerah.
“Glondong pangarem-arem kita berikan ke Kraton, tapi dari Kraton diberikan bagi yang membutuhkan melalui bapak-ibu bupati. Dikembalikan ke masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, nilai gotong royong tersebut menjadi teladan kepemimpinan yang perlu diterapkan hingga level pemerintahan paling bawah, terutama oleh para lurah dalam melayani masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
GKR Hemas dsoroti daycare ilegal di Jogja, tekankan izin dan pengawasan usai kasus kekerasan anak.
Sekitar 200 warga binaan Gunungkidul akan difasilitasi mengikuti Kejar Paket A, B, dan C sebagai bekal kembali ke masyarakat.
Pembangunan Jembatan Kewek memasuki tahap struktur lanjutan. Pondasi rampung dan erection girder ditarget September agar bisa dipakai saat Nataru 2026.
PSEL DIY ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18-20 MW untuk sekitar 15.000 rumah.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.