Pengakuan Ibu di Bantul yang Lakban Anak Demi Lepas Penat

Yosef Leon
Yosef Leon Rabu, 03 Juni 2026 21:37 WIB
Pengakuan Ibu di Bantul yang Lakban Anak Demi Lepas Penat

Foto ilustrasi kekerasan pada anak-anak, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, BANTUL—Polres Bantul mengungkap motif di balik kasus seorang ibu yang melakban anak kandungnya sendiri di sebuah rumah kontrakan di Dusun Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret. Dalam pemeriksaan, pelaku berinisial TKS, 25, mengaku melakukan tindakan tersebut karena merasa kelelahan setelah lama mengasuh anak tanpa pendampingan suami.

Kepala Seksi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, menjelaskan hasil penyelidikan menunjukkan tindakan yang dilakukan TKS terjadi secara spontan. Pelaku disebut ingin keluar rumah untuk mencari suasana baru dan melepaskan penat yang selama ini dirasakan saat mengurus anak seorang diri.

“Pelaku dalam hal ini ibu kandung korban melakban anak dengan tujuan untuk refreshing jalan-jalan melepas penat yang selama ini dirasakan karena lelah mengasuh anak sendirian,” kata Rita, Rabu (3/6/2026).

Berdasarkan hasil pemeriksaan, TKS merupakan warga asal Kapanewon Patuk, Gunungkidul. Saat ini, ia tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan di wilayah Pleret, Bantul.

Kepada penyidik, pelaku mengaku mengalami kelelahan berkepanjangan karena harus mengurus anak tanpa kehadiran suami yang bekerja di Jakarta. Suaminya diketahui hanya pulang ke Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar satu bulan sekali.

Rita menuturkan pelaku mengaku tidak mempertimbangkan dampak maupun risiko yang dapat dialami anaknya saat melakukan tindakan tersebut. Menurut pengakuannya, kondisi fisik dan mental yang lelah menjadi faktor utama yang memicu peristiwa tersebut.

Sementara itu, suami pelaku yang juga ayah korban, RF, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik dan viral di media sosial.

Dalam pemeriksaan, RF menyatakan tidak akan melaporkan istrinya kepada aparat penegak hukum. Ia memilih menyelesaikan persoalan tersebut melalui pendekatan kekeluargaan serta berupaya memperbaiki kondisi rumah tangga mereka.

“Sebagai kepala rumah tangga dan wali korban, yang bersangkutan tidak ingin melaporkan pelaku dan akan berupaya memperbaiki kondisi rumah tangga agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Rita.

Saat ini, korban telah berada dalam pengasuhan keluarga dari pihak ayah di wilayah Semoyo, Patuk, Gunungkidul. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi fisik maupun psikologis anak tetap terjaga setelah mengalami peristiwa tersebut.

"Kondisi anaknya sekarang baik dan sehat setelah dirawat di rumah keluarga RF," ucap Rita.

Pihak keluarga juga menyatakan telah memaafkan TKS. Selain itu, keluarga berkomitmen memberikan pendampingan dan dukungan agar kondisi rumah tangga dapat kembali membaik. Menurut keluarga, tindakan yang dilakukan pelaku dipengaruhi tekanan psikologis akibat kelelahan mengasuh anak seorang diri serta karena masih menjalani pengalaman pertama sebagai ibu.

Sebelumnya, kasus ini menyita perhatian publik setelah seorang balita perempuan berusia tiga tahun ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di sebuah rumah kontrakan di Dusun Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Bantul, pada Senin (1/6/2026) malam. Saat ditemukan, korban berada dalam kondisi mulut dilakban serta tangan dan kaki terikat. Polisi hingga kini masih terus mendalami rangkaian peristiwa tersebut sembari memastikan kondisi korban tetap mendapatkan pendampingan dari keluarga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online