Pria Asal Sewon Ditemukan Meninggal di Sungai Bedog Bantul
Seorang pria 61 tahun ditemukan meninggal di Sungai Bedog, Bantul. Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan, korban diduga punya riwayat epilepsi.
Pengendara melintas di sentra industri gerabah Kasongan, Bantul, Kamis (16/7/2026). Pemkab Bantul berencana menyambungkan desa di wilayah ini dengan desa lain. Yosef Leon
Harianjogja.com, BANTUL— Pemerintah Kabupaten Bantul mulai menyiapkan grand design pengembangan kawasan Kasongan-Selarong-Krebet guna menghubungkan potensi wisata, industri kreatif, dan infrastruktur antarwilayah. Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan kawasan wisata terpadu yang tidak hanya memudahkan mobilitas pengunjung, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Pada tahap awal, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul melakukan identifikasi potensi dan kebutuhan masing-masing kawasan dari aspek pariwisata, industri, tata ruang, hingga infrastruktur. Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar penyusunan Detail Engineering Design (DED) yang ditargetkan rampung tahun ini sebelum dituangkan dalam grand design pengembangan kawasan.
Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Bantul, Eni Kriswandari, menjelaskan kawasan Kasongan-Selarong-Krebet memiliki kekayaan potensi wisata dan industri yang selama ini belum terhubung secara optimal. Karena itu, diperlukan perencanaan yang lebih menyeluruh agar ketiga kawasan tersebut dapat saling mendukung dan berkembang secara berkelanjutan.
"Makanya pada tahap awal kami identifikasi dulu baik dari sisi wisata, industri, tata ruang dan infrastruktur agar tahu potensi dan kebutuhannya," kata Eni, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, ketiga kawasan tersebut sebenarnya telah memiliki identitas dan daya tarik masing-masing. Namun, pengembangannya masih berjalan secara terpisah sehingga konektivitas antarwilayah perlu diperkuat untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Bappeda Bantul pun menargetkan penyusunan Detail Engineering Design (DED) dapat dilakukan pada tahun ini. Dokumen tersebut nantinya akan menjadi bagian dari grand design yang memuat arah pengembangan kawasan secara lebih rinci.
"Rencananya Detail Engineering Design (DED) kami susun tahun ini setelahnya kami buat grand design yang di dalamnya ada DED," ujarnya.
Dalam aspek teknis, revitalisasi kawasan Kasongan tidak menutup kemungkinan akan menyentuh perbaikan infrastruktur jalan guna meningkatkan aksesibilitas masyarakat dan wisatawan. Kemudahan akses tersebut diharapkan mampu mendorong pergerakan pengunjung untuk menjelajahi seluruh kawasan yang saling terhubung.
Dengan konsep tersebut, wisatawan yang berkunjung ke Kasongan nantinya dapat melanjutkan perjalanan ke Selarong maupun Krebet dalam satu rangkaian wisata. Masing-masing kawasan juga diharapkan memiliki pengembangan produk dan daya tarik yang mampu saling melengkapi.
"Jadi nanti pengunjung yang ke Kasongan bisa ke Selarong, bisa ke Krebet. Termasuk pengembangan masing-masing desa agar bisa saling mengisi," katanya.
Pengembangan kawasan terpadu seperti ini sebelumnya telah diterapkan di kawasan desa wisata Kajigelem yang merupakan akronim dari Kasongan, Jipangan, Gendeng, dan Lemahdadi. Konsep tersebut dinilai mampu memperkuat keterkaitan antarwilayah sehingga akan menjadi salah satu model yang direplikasi dalam pengembangan Kasongan-Selarong-Krebet.
Rencana tersebut juga menjadi bagian dari prioritas pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi yang diusulkan Kabupaten Bantul pada 2027. Karena itu, berbagai aspek pendukung mulai dipersiapkan sejak sekarang, mulai dari pembagian peran antarpemangku kepentingan hingga skema penganggaran yang dibutuhkan.
"Makanya kami harus berbenah dari sekarang termasuk siapa berperan apa, kemudian anggarannya berapa, dari mana, itu kan harus didetailkan," ungkap Eni.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUKMP) Bantul, Prapta Nugraha, mengungkapkan kawasan Kasongan yang selama ini dikenal sebagai sentra kerajinan gerabah telah mengalami perkembangan produk yang cukup signifikan.
Meskipun perajin gerabah masih bertahan, sebagian pelaku usaha kini mulai mengembangkan produk interior rumah yang memiliki permintaan pasar lebih besar. Perubahan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penyusunan arah pengembangan kawasan agar regenerasi dan keberlanjutan industri gerabah tetap terjaga.
"Perajin gerabahnya memang masih ada, tapi produknya yang sudah mulai bergeser. Sekarang banyak yang menjual produk interior, karena lebih laku," jelas Prapta.
Menurutnya, dinamika tersebut justru menjadi bahan evaluasi dan diskusi dalam penyusunan grand design kawasan Kasongan-Selarong-Krebet. Pengembangan yang dilakukan diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri kreatif dari hulu hingga hilir sekaligus menjaga identitas kawasan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang pria 61 tahun ditemukan meninggal di Sungai Bedog, Bantul. Polisi memastikan tidak ada tanda kekerasan, korban diduga punya riwayat epilepsi.
Penerimaan PBB-P2 Bantul mencapai Rp34,8 miliar hingga Juni 2026. Pemkab menyiapkan insentif bagi kalurahan yang melunasi pajak tepat waktu.
Pemotor di Turi, Sleman, tertimpa pohon melinjo setelah pohon kelapa roboh. Korban masih menjalani perawatan di RSUD Sleman.
Presiden Prabowo meresmikan pembangunan Blok Masela senilai Rp376,02 triliun yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2029 hingga 2030.
Pemkab Sleman mengevaluasi studi kelayakan proyek KPBU lampu jalan. Konstruksi ditargetkan dimulai pada 2027 untuk pemerataan penerangan.
Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul berencana menyambungkan potensi wisata di wilayahnya dengan sektor industri agar kian maksimal.