Pemkab Gunungkidul Dorong Layanan Publik Berlandaskan Ngayomi dan Ngayemi
Pemkab Gunungkidul mendorong pemerintahan berkeadaban dengan prinsip mengayomi, ngayemi, dan ngayahi serta pengawasan yang berdampak nyata.
Foto ilustrasi Siswa Sekolah Dasar - Foto dibuat dengan Artificial Intelligence ChatGPT
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Fenomena menurunnya jumlah peserta didik baru masih membayangi pendidikan dasar di Kabupaten Gunungkidul. Hasil Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 menunjukkan sejumlah sekolah bahkan tidak memperoleh murid baru sama sekali.
Dinas Pendidikan Gunungkidul mencatat ada 13 sekolah dasar yang nihil pendaftar dalam pelaksanaan SPMB tingkat SD yang berlangsung pada 3-5 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, sembilan merupakan sekolah negeri dan empat lainnya sekolah swasta.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Gunungkidul, Asbani, mengatakan secara umum pelaksanaan SPMB berjalan lancar tanpa kendala berarti. Namun, hasil penerimaan menunjukkan masih banyak sekolah yang mengalami kekurangan murid.
"Total ada 13 SD yang tidak mendapat murid dalam SPMB tahun ini," ujar Asbani, Minggu (14/6/2026).
Sembilan SD negeri yang tidak memperoleh murid baru yakni SDN II Songbanyu di Kapanewon Girisubo, SDN Gelaran III di Kapanewon Karangmojo, SDN Sambeng II di Kapanewon Ngawen, SDN Wonolagi di Kapanewon Playen, SDN Ngabean di Kapanewon Ponjong, SDN Widoro di Kapanewon Semin, SDN Jaten di Kapanewon Tanjungsari, SDN Kemiri di Kapanewon Tanjungsari, serta SDN Puleireng di Kapanewon Tepus.
Sementara itu, empat sekolah swasta yang juga tidak mendapatkan murid baru terdiri atas SD Kanisius Ngawen, SD Sanjaya Giring di Paliyan, SD Muhammadiyah Dawung di Rongkop, dan SD Kanisius Bandung 1 di Playen.
Menurut Asbani, sebagian SD negeri yang tidak menerima murid baru tersebut memang telah masuk dalam program regrouping atau penggabungan sekolah yang direncanakan pemerintah daerah. Karena masuk proses penataan, sekolah-sekolah tersebut tidak membuka penerimaan siswa baru.
"Tujuannya agar bisa diregrouping sehingga menunggu sampai siswa yang ada lulus semua. Jadi tidak ada penerimaan murid baru," katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Nunuk Setyowati, mengungkapkan persoalan kekurangan siswa tidak hanya terjadi pada sekolah yang nihil pendaftar. Dari total 463 SD yang ada di Gunungkidul, terdiri atas 401 sekolah negeri dan 62 sekolah swasta, hanya 36 sekolah yang mampu memenuhi kuota rombongan belajar sebanyak 20 siswa per kelas.
Sebaliknya, sebanyak 172 SD hanya menerima kurang dari 10 murid baru pada tahun ajaran 2026/2027. Kondisi ini menunjukkan persebaran siswa baru masih belum merata di seluruh wilayah.
Data Dinas Pendidikan juga mencatat sebanyak 255 SD memperoleh lebih dari 10 murid baru, tetapi jumlah tersebut belum cukup untuk memenuhi kuota rombongan belajar yang telah ditetapkan.
Secara keseluruhan, kuota penerimaan murid baru tingkat SD di Gunungkidul mencapai 13.804 kursi. Namun jumlah siswa yang diterima hanya 6.731 anak atau kurang dari separuh kapasitas yang tersedia.
Nunuk menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan masih banyak sekolah mengalami kekurangan murid. Menurut dia, jumlah kursi yang tersedia saat ini jauh lebih besar dibandingkan jumlah calon peserta didik yang mendaftar.
"Kita punya kuota penerimaan siswa baru tingkat SD sebanyak 13.804 kursi, sedangkan yang diterima hanya 6.731 anak. Jadi kalau ada sekolah yang kekurangan murid merupakan hal yang wajar karena memang kuotanya lebih banyak ketimbang calon murid baru," ujar Nunuk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mendorong pemerintahan berkeadaban dengan prinsip mengayomi, ngayemi, dan ngayahi serta pengawasan yang berdampak nyata.
Veda Ega Pratama finis kedua Moto3 Malaysia 2026 di Sepang. Pembalap asal Gunungkidul itu kini naik ke posisi tujuh klasemen.
Polresta Sleman menyita 833 botol miras ilegal selama Oktober 2026. Razia menyasar warung, tempat usaha hingga gudang penyimpanan.
Oase Malioboro hadir sebagai destinasi wisata baru di Jogja dengan pertunjukan seni, budaya Jawa, teknologi imersif, dan ruang hijau.
Simulasi UMP 2027 jika naik 9,5% menempatkan upah minimum Jogja sebesar Rp2,64 juta. Cek proyeksi 38 provinsi lainnya.
Cheers Water mendukung Erafone Run 2026 di Museum Gunungapi Merapi dengan menyediakan air mineral dan fasilitas water station untuk memenuhi kebutuhan hidrasi r