Pembangunan PSEL Bantul Masih Tahap Persiapan, Ini Perkembangannya
Pemkab Bantul masih mematangkan persiapan pembangunan PSEL, mulai dari penyiapan lahan hingga penyusunan MoU dan PKS bersama Danantara.
Kapal nelayan bersandar di Pantai Baru Kabupaten Bantul belum lama ini. DKP Bantul menyebut produksi ikan tangkap di wilayahnya diprediksi menurun tahun ini karena paceklik dan nelayan lebih suka menangkap BBL.
Harianjogja.com, BANTUL—Produksi perikanan tangkap di Kabupaten Bantul diperkirakan belum memenuhi target pada 2026. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul menilai salah satu penyebabnya adalah semakin banyak nelayan yang memilih menangkap Benih Bening Lobster (BBL) dibanding melaut untuk mencari ikan konsumsi. Pergeseran aktivitas tersebut dinilai lebih menguntungkan karena lebih efisien dari sisi waktu, tenaga, maupun biaya operasional.
Kondisi tersebut disebut menjadi kelanjutan dari tren yang mulai terlihat sejak tahun lalu. Di sejumlah kawasan pesisir, alat tangkap BBL masih banyak dipasang di tepian pantai sehingga aktivitas penangkapan ikan dinilai belum berlangsung secara optimal.
Penangkapan BBL Dinilai Lebih Efisien
Kepala DKP Kabupaten Bantul, Istriyani, mengatakan hasil analisis instansinya menunjukkan capaian produksi ikan tangkap hingga pertengahan tahun belum sesuai harapan. Salah satu indikatornya adalah masih dominannya aktivitas penangkapan BBL di wilayah pesisir.
"Mereka lebih aktif menangkap BBL daripada menangkap ikan-ikan seperti biasanya. Diduga seperti itu," katanya, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Istriyani, nelayan memilih menangkap BBL karena prosesnya lebih sederhana dibanding mencari ikan di laut lepas. Mereka tidak perlu berlayar jauh sehingga biaya operasional maupun tenaga yang dikeluarkan menjadi lebih kecil.
"Karena tidak harus menjelajah ke sana kemari, mereka tinggal pasang alat tangkap di tepian, pasang sore, terus besok pagi diambil. Jadi efektif kan? Kalau mencari ikan biasa kan harus ke laut," ujarnya.
Ia menjelaskan penangkapan BBL saat ini telah diizinkan pemerintah. Namun, pelaksanaannya tetap mengacu pada kuota tahunan yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk masing-masing daerah.
"Jadi sebenarnya kalau sudah musim, mereka sudah bisa menangkap dan nanti akan kami berikan surat keterangan asal," ungkapnya.
DKP Siapkan Bantuan Perahu dan Mesin
Meski aktivitas penangkapan BBL meningkat, DKP Bantul tetap berupaya mendorong nelayan kembali meningkatkan produksi ikan tangkap. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyaluran bantuan sarana penangkapan.
Istriyani mengatakan bantuan tersebut berupa 10 unit perahu, 20 unit mesin, serta mesin tangkap yang akan diberikan kepada kelompok nelayan bersamaan dengan serah terima KNMP.
"Nanti akan kami salurkan bersamaan dengan serah terima KNMP. Harapannya bisa dimanfaatkan nelayan saat berakhirnya musim paceklik ikan di Oktober, sehingga bisa meningkatkan produksi," kata Istri.
Namun demikian, pihaknya mengakui target produksi ikan tangkap tahun ini masih cukup berat untuk dicapai. Pada musim kemarau, sebagian besar nelayan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kapal dan alat tangkap karena memasuki masa paceklik ikan.
"Nanti kalau Oktober mereka baru mulai melaut lagi karena hasil tangkapan seperti ikan manyung, bawal dan layur itu mulai banyak," pungkasnya.
Produksi Perikanan Tangkap Masih Fluktuatif
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya DKP Bantul, Ptamahdiansyah, menyebut produksi perikanan tangkap di Bantul selama periode 2024 hingga 2026 masih menunjukkan pola yang fluktuatif.
Berdasarkan data DKP Bantul, produksi perikanan tangkap pada 2024 tercatat mencapai 320,8 ton. Angka tersebut meningkat menjadi 3.900 ton pada 2025. Adapun hingga kuartal kedua 2026, produksi telah mencapai 20.034 ton.
Meski demikian, Ptamahdiansyah tetap optimistis capaian produksi hingga akhir tahun masih dapat meningkat karena tahun berjalan masih memasuki pertengahan periode.
"Meskipun fluktuatif tapi trennya naik terus dan kami optimistis produksi tahun ini maksimal karena masih pertengahan tahun," pungkasnya.
Data Produksi Perikanan Tangkap Bantul
2024: 320,8 ton
2025: 3.900 ton
Kuartal II 2026: 20.034 ton
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul masih mematangkan persiapan pembangunan PSEL, mulai dari penyiapan lahan hingga penyusunan MoU dan PKS bersama Danantara.
Simak jadwal lengkap KA Bandara YIA reguler dan Xpress untuk Selasa 21 Juli 2026. Tersedia layanan dari Tugu Jogja menuju YIA dan sebaliknya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 21 Juli 2026 tersedia dari pukul 05.00 WIB hingga 20.42 WIB dengan tarif Rp8.000 untuk sekali perjalanan.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 20 Juli 2026 lengkap dari Stasiun Jogja hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 dengan 15 perjalanan setiap hari.
PT Isuzu Astra Motor Indonesia menjadi satu-satunya produsen kendaraan komersial yang seluruh produknya ber-TKDN dengan capaian tertinggi lebih dari 62 persen.
Basarnas memperluas area pencarian 18 korban KM Nurul Salsa hingga 1.980 mil laut dengan dukungan alutsista laut dan udara pada hari keenam operasi SAR.