Disdik Sleman Dukung Wacana Siswa Tinggal Kelas, Ini Pertimbangannya
Disdik Sleman menilai wacana tinggal kelas perlu mengacu pada standar kompetensi, tanggung jawab, karakter, dan kehadiran siswa.
DPRD Kota Jogja./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Kota Jogja didorong mengubah orientasi pariwisata dari mengejar jumlah kunjungan menuju peningkatan lama tinggal dan belanja wisatawan.
Salah satu strategi yang diusulkan Komisi B DPRD Kota Jogja ialah memperkuat identitas City of Festival dengan mengembangkan kegiatan budaya, kampung wisata, kuliner, dan kerajinan.
Anggota Komisi B DPRD Kota Jogja, Krisnadi Setyawan, menilai strategi tersebut penting agar aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah dan pelaku usaha lokal.
Menurut dia, sektor pariwisata berkontribusi terhadap perekonomian kota, antara lain melalui usaha akomodasi serta penyediaan makanan dan minuman. Kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah (PAD) juga ditopang penerimaan pajak hotel dan restoran.
“Perlu ada pengembangan daya tarik baru, seperti kampung wisata, kegiatan budaya, kuliner, kerajinan, hingga festival,” kata Krisnadi saat ditemui di kawasan Gondokusuman, Selasa (13/10/2026) sore.
Krisnadi mengatakan penguatan konsep City of Festival diharapkan membuat Kota Jogja tidak hanya menjadi tempat persinggahan, tetapi juga basis akomodasi bagi wisatawan yang hendak mengunjungi berbagai destinasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Wisatawan mau ke Gunung Merapi, ke pantai, mau ke candi, yang penting bagaimana caranya wisatawan itu tinggalnya, menetapnya, menginapnya di hotel Kota Jogja,” ujarnya.
Lama Tinggal Wisatawan Jadi Perhatian
Krisnadi menyebut rata-rata lama tinggal wisatawan saat ini sekitar 1,6 hari. Ia berharap durasi tersebut dapat ditingkatkan hingga dua hari penuh melalui penambahan daya tarik dan kegiatan yang mendorong wisatawan memperpanjang kunjungan.
Namun, keberhasilan strategi pariwisata, menurut dia, tidak cukup dinilai dari jumlah pengunjung. Pemerintah perlu mengukur dampak kegiatan terhadap tingkat hunian hotel, transaksi restoran, serta aktivitas ekonomi pelaku usaha setempat.
Wayang Jogja Night Carnival (WJNC), misalnya, menjadi salah satu kegiatan yang mendukung promosi Yogyakarta sebagai kota festival. Data kunjungan yang tengah direkap perlu diperinci berdasarkan asal pengunjung serta jumlah wisatawan domestik dan mancanegara.
Rincian tersebut dapat membantu pemerintah menilai apakah festival turut meningkatkan hunian hotel dan transaksi usaha atau lebih banyak menghasilkan keramaian di lokasi acara.
Evaluasi juga diperlukan untuk membandingkan biaya penyelenggaraan dengan manfaat ekonomi yang dihasilkan. Dengan begitu, penyelenggaraan festival tidak hanya berorientasi pada jumlah penonton, tetapi juga pada dampaknya terhadap masyarakat dan pendapatan daerah.
Mengurangi Pola Wisata Singgah
Krisnadi menilai pola kunjungan wisatawan yang hanya singgah di Kota Jogja menjadi salah satu tantangan. Sebagian rombongan wisatawan datang setelah mengunjungi destinasi lain, seperti Candi Prambanan dan kawasan pantai. Mereka biasanya memasuki kota pada sore hari, berkunjung ke Malioboro, lalu pulang pada malam hari.
Pola tersebut berpotensi membatasi manfaat ekonomi bagi usaha di Kota Jogja apabila wisatawan tidak menginap atau hanya melakukan sedikit transaksi selama berada di kota.
Di sisi lain, pemerintah tetap perlu menyediakan fasilitas dan pelayanan untuk mendukung aktivitas wisatawan tersebut.
“Pengeluaran pemerintah kota untuk fasilitasi itu sebenarnya lebih banyak dibanding pendapatan yang diperoleh, baik dari jasa parkir maupun pajak makan minumnya,” ucap Krisnadi.
Karena itu, peralihan menuju pariwisata berkualitas perlu diarahkan pada peningkatan lama tinggal, belanja wisatawan, dan pemerataan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
Penguatan festival, kampung wisata, kuliner, dan kerajinan dapat menjadi bagian dari strategi tersebut. Pelaksanaannya perlu disertai evaluasi berbasis data, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perhatian terhadap pelestarian budaya dan kesejahteraan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdik Sleman menilai wacana tinggal kelas perlu mengacu pada standar kompetensi, tanggung jawab, karakter, dan kehadiran siswa.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis15 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap dan tarif KRL Rp8.000.
DPRD Sleman mengimbau warga mengurangi pembakaran sampah, membatasi aktivitas luar ruang, dan menggunakan masker untuk mengurangi paparan debu dan asap.
Google merilis Gemini 4 Argon secara global untuk pengembang, perusahaan, dan pelanggan berbayar. Simak harga API, fitur, dan akses gratis terbatas.
Komisi B DPRD Kota Jogja mendorong penguatan City of Festival untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan dan meningkatkan belanja di usaha lokal.
Kenali lima keterampilan mengemudi mobil, mulai dari parkir di ruang sempit, menghadapi tanjakan, menjaga jarak, memeriksa blind spot, hingga menangani ban boco