Kasus TBC Anak di Jogja Naik, Gowongan Perkuat Edukasi Keluarga

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Sabtu, 31 Oktober 2026 08:37 WIB
Kasus TBC Anak di Jogja Naik, Gowongan Perkuat Edukasi Keluarga

Petugas kesehatan sedang melayani warga yang memeriksakan diri. - Dok-Harian Jogja.

Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Gowongan, Kota Jogja, memperkuat edukasi pencegahan tuberkulosis (TBC) pada anak sebagai bagian dari upaya mencegah stunting. Kegiatan bertajuk CETING NGEBUL (Cegah Stunting Ngagem Dhahar Kembul) tersebut digelar Selasa (27/10/2026) dengan tema “Anak Sehat Bebas TBC: Cegah Penularan, Dukung Tumbuh Kembang Optimal”.

Kegiatan ini menyasar warga, khususnya orang tua yang memiliki balita. Lurah Gowongan, Tika Adriatiavita Wijayawati Pangarso, mengatakan edukasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai TBC pada anak.

Dalam kegiatan tersebut, dr. Feli dari Yayasan Uloro Jogja menyampaikan materi bertajuk “Kenali TB pada Anak”. Materi mencakup pengenalan gejala TBC sejak dini, pencegahan penularan, serta pentingnya pemeriksaan dan penanganan kesehatan yang tepat bagi anak.

Edukasi ini menjadi perhatian karena TBC masih menjadi persoalan kesehatan di Kota Jogja. Berdasarkan Laporan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) 2022, angka insidensi TBC di Kota Jogja mencapai 194,6 kasus per 100.000 penduduk.

Angka tersebut dihitung berdasarkan temuan 805 kasus baru pada penduduk yang berdomisili di Kota Jogja sepanjang 2022. Kasus TBC pada anak juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, dari 133 kasus pada 2021 menjadi 398 kasus pada 2022.

Secara nasional, Indonesia menempati peringkat kedua negara dengan beban TBC tertinggi di dunia setelah India. Posisi tersebut meningkat dibandingkan 2021, ketika Indonesia berada di peringkat ketiga setelah India dan China.

Data yang disampaikan dalam informasi kegiatan tersebut juga mencatat angka insidensi TBC nasional mencapai 354 kasus per 100.000 penduduk. Tingginya kasus TBC berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dan sosial, mulai dari bertambahnya beban pembiayaan pencegahan dan pengendalian penyakit hingga terganggunya produktivitas penderita.

Selain itu, TBC dapat membatasi interaksi sosial dan meningkatkan risiko penularan di masyarakat. Karena itu, pemahaman keluarga mengenai gejala dan langkah pemeriksaan menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian penyakit.

Peran Keluarga dalam Pencegahan TBC dan Stunting

Pemerintah telah mencanangkan target eliminasi TBC pada 2030. Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Kota Jogja menerapkan strategi pencegahan dan pengendalian TBC secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak.

Di tingkat kelurahan, Ceting Ngebul menjadi salah satu sarana untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai kesehatan anak dan pencegahan stunting. Orang tua tidak hanya diharapkan memperhatikan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga kondisi kesehatan anak serta gejala penyakit yang mungkin muncul.

“Orang tua juga perlu memastikan anak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan apabila diperlukan,” kata Adriatiavita saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Kelurahan Gowongan, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kelurahan, Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta Tim Pelaksana Keluarga Siaga TB.

Melalui kerja sama tersebut, Kelurahan Gowongan mendorong penguatan peran keluarga dalam pencegahan stunting sekaligus penanggulangan TBC. Upaya ini diharapkan mendukung terwujudnya Kelurahan Gowongan Bebas Stunting dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penularan TBC, terutama pada anak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online