Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Kroyokan Sedekah/Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL-Joko Taruno dan kawan-kawan yang tergabung dalam komunitas Kroyokan Sedekah punya keyakinan teguh untuk barbagi. Setiap pekan, mereka memberikan ribuan makanan dan minuman ke 33 masjid di wilayah DIY.
Terdapat tiga kios di sisi barat Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja. Namun dua kios disatukan, sedangkan satu kios lainnya dijadikan toko kelontong Jumat (20/4/2018) pagi, di kios dengan ruangan lebih besar yang kemudian dijadikan markas komunitas Kroyokan Sedekah, empat orang membungkus nasi dan lauk.
Di teras, satu orang menyiapkan makanan yang telah dibungkus dan roti untuk dibagikan ke sukarelawan yang akan mengantarkannya ke masjid-masjid di Bantul, Sleman, dan Kota Jogja. Sepeda motor hilir mudik silih berganti mengangkut roti, nasi bungkus, dan minuman. Ini adalah pemandangan lazim saban Jumat. Beberapa orang yang terlibat di dalamnya merasa kerepotan. Namun, secara eskatologis, pekarjaan yang tidak enteng dan butuh kesabaran itu dianggap setimpal.
“Meski berat, tidak masalah karena ini bagian dari ibadah. Kami harus ikhlas sehingga seluruh amal yang diperbuat akan dibalas oleh Allah,” ujar Wardani, anggota Kroyokan Sedekah.
Sejak berdiri dua tahun lalu, Kroyokan Sedekah sudah memasok makanan dan minuman ke 33 masjid setiap pekan. Komandan Kroyokan Sedekah, Joko Taruno, mengatakan khusus untuk Gunungkidul dan Kulonprogo bukan makanan yang dikirim, melainkan uang yang ditransfer ke pengelola.
“Agar digunakan untuk membeli makanan dan minuman di sana,” kata Joko.
Ide mendirikan komunitas ini, menurut dia, tidak lepas dari program gerakan memakmurkan masjid di Jogokariyan, Kota Jogja. Saat itu, untuk menarik minat anak-anak salat berjemaah di masjid, pengelola meyediakan aneka kudapan gratis.
Joko kemudian menggunakan gagasan ini untuk diterapkan di Bantul. Awalnya, Kroyokan Sedekah hanya menyasar Masjid ISI dan Prancak, Desa Panggungharjo, Sewon. Akan tetapi lambat laun, kebaikan itu berkembang luas ke seantero DIY.
“Setiap pekan kami menyediakan 1.000 makanan, berupa roti dan nasi bungkus, kepada jemaah salat Jumat di 33 tempat,” ujar alumnus ISI Jogja ini.
Komunitas ini merogoh kocek Rp2,6 juta sekali amal. Uang berasal dari sumbangan sukarelawan dan anggota dari Kroyokan Sedekah yang ada di berbagai wilayah.
“Kami buat grup Facebook dan itu dijadikan sebagai sarana komunikasi. Selain itu, untuk menggerakan sedekah kami juga melakukan program nyewu ben dhino [Rp1.000 per hari],” kata Joko.
Dia mengatakan derma yang digalang teman-temannya murni untuk kegiatan sosial. Toh, ada politisi yang berusaha menungganginya. Mereka menawarkan diri ikut bergabung. Joko menolak.
“Kalau mau bantu tidak pakai embel-embel yang lain. Kalau tidak mau ya lebih baik begini [dana yang tidak banyak] ketimbang dimanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi,” ujar dia.
Selain membagikan makanan ke puluhan masjid, Kroyokan Sedekah juga terlibat aktif dalam beberapa bakti sosial seperti memberikan bantuan untuk korban bencana banjir di Ponorogo dan Cilacap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Prabowo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski kurs dolar dan ekonomi global bergejolak.
Sembilan provinsi memperbolehkan bayar pajak kendaraan 2026 tanpa KTP pemilik lama untuk STNK tahunan kendaraan bekas.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.