Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Bupati Bantul Suharsono memukul gong sebagai penanda dibukanya Bantul Expo 2018 di kawasan Pasar Seni Gabusan, Jumat (27/7/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL-Bupati Bantul Suharsono meresmikan Bantul Expo 2018 di kawasan Pasar Seni Gabusan, di Desa Timbulharjo, Sewon, Jumat (27/7/2018).
Rencannya pameran ini berlangsung hingga 6 Agustus mendatang. Adapun peserta pameran sebanyak 251 stan, yang terdiri dari stan binaan organisasi perangkat daerah (OPD) Bantul 63 unit, stan swasta 54 unit, tenda pasar malam 57 unit, pedagang kaki lima (PKL) 66 unit, dan stan khusus otomotif sebanyak enam unit, serta stan Dinas Perdagangan lima unit.
Ketua Panitia Bantul Expo 2018, Subiyanta Hadi mengatakan, pelaksanaan pameran selama sebelas hari ini mengambil tema Dengan Bantul Expo, Kita Tingkatkan Daya Saing Produk Unggulan Menuju Masyarakat Bantul Mandiri dan Sejahtera. Menurut dia, tema ini diangkat untuk memberikan semangat kepada pelaku usaha maupun pengrajin di Bantul untuk terus semangat sehingga bisa bersaing dalam pasar bebas.
“Mudah-mudahan semua berjalan dengan sukses. Tapi kami juga berharap dalam pameran yang ditampilkan memiliki kualitas yang semakin baik,” kata Subiyanta kepada wartawan, Jumat.
Menurut dia, dalam Bantul Expo tidak hanya menampilkan berbagai hasil kerajinan dan produk asli dari Bantul. Namun acara ini juga diisi dengan berbagai atraksi seni dan hiburan.
“Selain expo pameran, kita juga ada pasar malam untuk sarana hiburan bagi masyarakat. Harapannya dengan berbagai stan yang muncul dapat menarik pengunjung sehingga dapat meningkatkan pendapatan,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Tri Saktiana ikut hadir mewakili Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Di dalam sambutannya, ia mendukung penuh pelaksanaan Bantul Expo karena sebagai wadah untuk promosi produk-produk yang dimiliki. Namun demikian, dari pameran ini juga tersimpan sebuah harapan agar produk-produk yang dimiliki dapat makin bersaing terutama dalam memasuki pasar global.
“Harapannya produk yang dihasilkan semakin baik sehingga dapat bersaing dengan produk dari luar,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengatakan, Bantul Expo 2018 memiliki banyak arti penting. Selain sebagai daya tarik untuk wisatawan lokal, pameran juga sebagai ajang promosi untuk produk kerajinan maupun sektor usaha lain yang dihasilkan oleh Masyarakat Bantul.
“Memang untuk saat ini masih dalam cakupan pengunjung lokal, tapi yang jelas Bantul Expo bisa jadi ikon penyelenggaraan kegiatan di Kabupaten Bantul,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Satpol PP Solo bersama tim gabungan menertibkan penjual miras ilegal dan menyita 34 botol minuman beralkohol tak sesuai izin.
PSIM Jogja kalah 1-3 dari Arema FC di Super League 2025/2026. Van Gastel soroti start buruk dan kesalahan individu pemain.
Kominfo menjelaskan tiga peran orangtua dalam melindungi anak di ruang digital sesuai PP Tunas 2025 untuk menciptakan internet aman.
-Pendampingan yang dilakukan Astra Honda Motor terhadap Desa Wisata Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Bantul mulai menunjukkan dampak
BGN menegaskan Program Makan Bergizi Gratis tidak membagikan susu formula untuk bayi usia 0-6 bulan dan tetap mengutamakan ASI eksklusif.