Aliran PDAM Macet Bertahun-tahun, Warga Panggang Beli Air hingga 17 Tangki
Aliran PDAM di Padukuhan Padem, Panggang, Gunungkidul macet lebih dari lima tahun. Warga terpaksa membeli air saat musim kemarau.
Bupati Gunungkidul Badingah saat melihat lapak pedagang di Pasar Minggu Pahing di Desa Beji, Patuk, Minggu (18/11/2018)./Ist-Dinas Pariwisata Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Bupati Gunungkidul Badingah meresmikan wisata kuliner Pasar Minggu Pahing di kawasan Pondok Pesantren Al Mumtaz di Desa Beji, Patuk, Minggu (18/11). Diharapkan keberadaan pasar dapat ikut berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pasar ini unik karena tidak buka setiap hari,” kata Badingah kepada wartawan, Minggu (18/11/2018).
Menurut dia, di arena pasar terdapat puluhan pedagang yang menjajakan penganan maupun kuliner tradisional seperti dawet, thiwul, pecel hingga aneka menu lainnya. Badingah pun berpesan agar kebersihan dan fasilitas untuk pengunjung lebih ditata. Tujuannya agar pengunjung yang datang dapat nyaman sehingga betah berlama-lama di pasar.
“Kebersihan hal utama yang harus dijaga. Selain itu, kualitas makanan juga harus dipertahankan,” tuturnya.
Penggagas Pasar Minggu Pahing, Muhammad Khoiron mengatakan, di area pasar ada 28 pedagang yang menjajakan aneka makanan tradisional khas tempo dulu. Keunikan lain dari pasar, selain menu yang disajikan, transaksi tidak menggunakan uang karena prosesnya memakai kotak kayu yang telah diberikan stempel.
“Satu kotak kayu sama dengan uang Rp2.000,” kata Khoiron.
Dia menjelaskan, keberadaan pasar dapat mendongkrak perekonomian warga sekitar. Selain itu Pasar Pahing juga digadang sebagai salah satu pasar digital di Gunungkidul. “Untuk aktivitas, kami juga meminimalisir penggunaan plastic sehingga lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.
Kepala Seksi Promosi dan Informasi, Dinas Pariwisata Gunungkidul Purnomo Sumardamto mengatakan, keberadaan Pasar Minggu Pahing di Patuk bisa dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata halal di Gunungkidul. Namun demikian, untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan perencanaan dan penambahan fasilitas yang lain.
Dia mencontohkan, tata letak area pasar harus dikonsep yang lebih baik lagi. Selain itu, penunjuk arah ke lokasi serta media promosi juga butuh digencarkan.
“Terlepas dari beberapa catatan yang ada, secara umum keberadaan pasar patut diberikan apresiasi karena pendirian berawal dari inisiasi warga setempat. Apalagi di lokasi pasar tidak hanya menyediakan aneka jajanan, tapi juga ada fasilitas rest area, tempat ibadah hingga paket wisata edukasi dan religi,” kata Damto, sapaan akrabnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Aliran PDAM di Padukuhan Padem, Panggang, Gunungkidul macet lebih dari lima tahun. Warga terpaksa membeli air saat musim kemarau.
Operasi Freeport Indonesia di Grasberg berangsur pulih. Kapasitas produksi PTFI ditargetkan mencapai 80% pada pertengahan 2027.
G7 sepakat melepas 100 juta barel cadangan energi. Trump kemudian membatalkan rencana larangan ekspor solar AS.
Kunjungan wisman ke YIA mencapai 13.876 pada Agustus 2026. Pemda DIY membidik pasar baru dan menjajaki sejumlah rute langsung.
Kapolri Suyudi Ario Seto melantik dan memimpin sertijab 27 perwira tinggi Polri untuk jabatan utama Mabes Polri dan Kapolda.
DPRD Gunungkidul segera membahas tiga Raperda baru tentang rokok, pariwisata, dan jaminan sosial ketenagakerjaan.