Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembuatan alat pertanian tradisional di Rumah Pande Besi milik Marmin di Dusun Kajar, Karangtengah, Wonosari, Senin (3/12/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Memasuki musim penghujan, pandai besi di Dusun Kajar, Karantengah, Wonosari kebanjiran pemesanan alat pertanian seperti sabit, cangkul, parang hingga alat-alat lainnya. Pemesanan tidak hanya berasal dari Gunungkidul karena peralatan ini banyak dikirim ke wilayah, Sragen, Boyolali, Sukoharjo hingga Wonogiri.
Salah seorang pandai besi di Dusun Kajar, Marmin mengatakan, memasuki musim penghujan pemesanan alat pertanian tradisional meningkat. Setiap harinya, ia mengaku bisa membuat ratusan alat seperti cangkul, sabit, parang, gathul (cangkul kecil).
“Sehari bisa 150-an alat yang dibuat. Nanti barang sudah jadi disimpan dan jika sudah banyak baru dikirim,” kata Marmin kepada wartawan, Senin (3/12/2019).
Menurut dia, permintaan peralatan tani tradisional tidak hanya dari Gunungkidul. Namun permintaan juga berasal dari wilayah Jawa Tengah seperti Sukoharjo, Klaten dan Wonogiri. “Ya kalau seperti sekarang, pesanan sedang banyak sehingga dikejar waktu untuk memenuhi order agar pemesan tidak kecewa,” tuturnya.
Marmin menuturkan, pengiriman keluar daerah dilakukan secara berkala. Sekali pengiriman peralatan yang dikiirim mencapai ribuan unit yang terdiri dari alat-alat pertanian tradisional. “Lumayan sekali kirim bisa memperoleh pendapatan kotor hingga Rp40 juta,” ungkapnya.
Dia menambahkan, untuk menyelesaikan pesanan dibantu 16 pegawai. Tujuh orang bertugas untuk membakar dan menempa besi menjadi alat. Sedang sembilan pegawai lainnya bertugas menyelesaikan pembuatan, seperti membuat gagang, mengasah, memotong dan merangkai alat pertanian yang sudah jadi.
“Saya senang karena usaha ini dapat memberikan manfaat kepada warga lainnya,” ujarnya.
Untuk bahan, Ia mengaku saat ini tidak kesulitan mendapatkan bahan baku karena sudah ada pemasok yang rutin mengirimkan barang untuk membuat. Bahan yang biasa digunakan berasal dari drum bekas, per bekas shok mobil. “Paling bagus abahan adalah rel bekas kereta, tapi sekarang sulit didapatkan sehingga bahan diganti dengan yang mudah dicari,” imbuhnya.
Salah seorang petani di Dusun Grogol I, Bejiharjo, Karangmojo, Suparno mengaku masih menggunakan peralatan pertanian tradisional. Menurut dia, alat ini lebih praktis karena tidak membutuhkan perawatan yang rumit. “Menggunakannya mudah. Sedang untuk alat modern lebih rumit apalagi untuk perbaikan harus dibawa ke teknisi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.