PELUANG USAHA : Gunungkidul Kekurangan Lele

09 September 2013 09:02 WIB Ujang Hasanudin Gunungkidul Share :

[caption id="attachment_445566" align="alignleft" width="451"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=445566" rel="attachment wp-att-445566">http://images.harianjogja.com/2013/09/lele-tangkap-di-kolam-antara.jpg" alt="" width="451" height="300" /> Ilustrasi panen ikan lele (JIBI/Harian Jogja/Antara)[/caption]

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Produksi lele di Gunungkidul belum bisa mencukupi pasar sehingga pedagang ikan di beberapa pasar terpaksa mencari pasokan dari luar daerah.

Seperti yang terjadi di Pasar Ponjong. Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul mencatat kebutuhan ikan lele 1,5 ton per pekan sedangkan pasokan dari pembudi daya lele baru sekitar 25% dari kebutuhan per pekan, yakni 1,125 ton.

Kondisi tersebut membuat dinas terus berupaya menggenjot produksi pembudidaya ikan lele. Kepala DKP Gunungkidul, Agus Priyatno, mengungkapkan sudah banyak bantuan yang diberikan untuk meningkatkan usaha pembudidaya lele.

Namun, bantuan sebatas stimulan, seperti bantuan terpal untuk lahan budi daya, benih dan pakan.

“Kami memberi bantuan lebih hati-hati sebab ketika pedagang mandiri juga ikut memproduksi, nanti ketika panen bersamaan harga lele jatuh,” ujarnya, Minggu (8/9/2013).

Saat ini harga lele di tingkat peternak mencapai Rp16.000 per kilogram.

Pembudi daya lele di Kecamatan Ponjong, Riftanto, mengakui adanya banyak permintaan lele namun dia belum mampu memenuhi meski sudah memiliki 40 kolam pembenihan lele berukuran 3x4 cm dan 17 kolam pembesaran dengan ukuran 10x15 cm.

Budi dayanya hanya mampu memproduksi lele sebanyak 2,5 kuintal per pekan. “Sekarang saya sedang menambah 35 kolam lagi yang berukuran 4x14 cm untuk pembesaran,” katanya.