MUSIM KEMARAU : Warga Prambanan Mulai Beli Air Bersih

13 September 2013 12:27 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_447042" align="alignleft" width="452"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/13/musim-kemarau-warga-prambanan-mulai-beli-air-bersih-447041/air-bersih-antara-4" rel="attachment wp-att-447042">http://images.harianjogja.com/2013/09/air-bersih-antara1.jpg" alt="" width="452" height="300" /> Ilustrasi krisis air bersih (JIBI/Harian Jogja/Antara)[/caption]

Harianjogja.com, SLEMAN—Warga yang tinggal di perbukitan Prambanan Sleman mulai kekurangan air bersih. Warga di kawasan yang berbatasan dengan Gunungkidul serta Klaten itu kini harus membeli air bersih.

Kekeringan melanda sedikitnya tiga desa wilayah perbukitan itu, yakni Desa Wukirharjo, Desa Gayamharjo dan Sambirejo. Sebagian besar yang mampu membeli air bersih, mereka mendatangkan droing dari swasta dengan cara membeli.

Tetapi warga miskin hanya bisa bertahan dengan kondisi air belik atau sumur kecil di wilayah itu seadanya. Kawasan perbukitan yang menjadi bermukim ribuan kepala keluarga di tiga desa itu memang kondisi geografisnya nyaris sama dengan Gunungkidul.

Mugi, 56, warga Dusun Nawung, Gayamharjo, Prambanan Sleman mengaku sejak sebulan terakhir warga mulai menghemat air bersih. Mereka yang mengandalkan mata air sumur atau belik pun memanfaatkannya sesuai kebutuhan.

Hingga saat ini, diakui Mugi, dirinya memang belum pernah membeli air melalui tangki keliling. Ia bersama keluarganya memilih bertahan dengan mengambil air di sumur meski kadang terlihat keruh.

"Sekarang sudah berkurang airnya, mudah-mudahan hujan seger turun," ungkap dia.

Bertahan dengan air sumur seadanya memang menjadi pilihan, karena tak jarang sopir tangki mempertimbangkan medan lokasi dengan jalan yang mulai rusak parah. "Biasanya banyak yang ngangsu kalau pagi," imbuhnya.

Kepala Desa Wukirharjo, Prambanan, Samijan mengatakan, terdapat sekitar 90 sampai 100 Kepala Keluarga (KK) dari tiga dusun mulai kesulitan air. Dusun tersebut antara lain Dusun, meliputi Klumprit I, Klumprit II dan Losari II. Ketiganya berada di jalur menurun menuju Desa Sambirejo Prambanan yang juga terdampak kekeringan.

“Sekitar 100 KK yang tinggal di Dusun Klumprit dan Losari II yang mengalami kesulitan air bersih. Kebanyakan warga harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air bersih di sumber terdekat,” kata Samijan saat dihubungi Harian Jogja, Kamis (12/9/2013).

Samijan menambahkan, sejak sebulan kebelakang persediaan air bersih di bak-bak penampungan air hujan yang ada di setiap rumah warga sudah habis. Untuk itu warga berusaha mendapatkan air bersih ini dengan cara mengambil dari Sendang Klumprit terdekat yang berjarak belasan kilometer.

“Jika ada warga yang mampu, mereka terpaksa membeli air bersih dari pedagang swasta seharga Rp150.000 per tanki dengan kapasitas 5.000 liter. Warga membeli secara patungan, karena harga yang relatif mahal,” kata Samijan yang menambahkan telah melayangkan surat permintaan air bersih ke Pemkab Sleman namun belum juga datang.