PAMERAN SENI : Street Art Tampil di Galeri untuk Menjawab Kritik

16 September 2013 15:42 WIB Bantul Share :

[caption id="attachment_448013" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/16/pameran-seni-street-art-tampil-di-galeri-untuk-menjawab-kritik-448010/street-art-3" rel="attachment wp-att-448013">http://images.harianjogja.com/2013/09/street-art.jpg" alt="" width="450" height="300" /> Pameran Street Art di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Ngestiharjo[/caption]

Harianjogja.com, Bantul – Bagi pengendara lalu lintas di Kota Jogja tentu tidak asing dengan karya poster stensil kritik di dinding pinggir jalan.

Salah satu karya stensil itu antara lain, gambar sesosok gadis mengenakan mahkota di kepala sembari menggendong seorang bayi yang tengah terlelap tidur atau gambar seorang gadis yang menenteng sebuah tulisan berisikan pesan "Hentikan Perang" hingga wajah pendekar HAM, Munir.

Tidak banyak orang tahu keusilan itu dibuat oleh Digie Sigit. Sebagai seniman street art, ia mengunakan dinding sebagai media berkarya sejak 1998. Dari banyak sekian karyanya, Sigit menampilkan kembali dalam pameran tunggal bertajuk Testimoni di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Ngestiharjo pada 10 – 21 September 2013.

Kepada Harian Jogja, Sigit mengungkapkan Testimoni merupakan pameran tunggal perdana dalam karirnya sebagai seorang seniman art street.

Menurutnya, pameran ini adalah pertanggungjawabannya kepada publik karena selama ini ia hanya berkarya di ruang publik sehingga masyarakat tidak banyak yang tahu.

“Saya siap menjawab kritik itu melalui pameran ini,” ujarnya, ditemui di sela pameran.

Bentuk tanggung jawab itu, kata dia penting karena ini yang membedakan street art dengan aksi vandalism yang biasanya hanya corat-coret saja tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

“Bahkan terkadang pesannya aksi pornografi dan kekerasan,” ungkapnya.

Dalam pameran ini, Sigit memamerkan 16 karya. Seluruhnya dikemas dengan berbagai medium seperti kanvas, kertas dan seng. Gambar-gambar yang dipamerkan ini, lanjutnya, memiliki ukuran sama dengan karya asli yang pernah terpasang di ruang publik.

“Saya hanya memindahkan gambar itu ke media pendukung [Kanvas, kertas dan seng],” ucapnya.

Selain itu, ayah satu satu anak ini juga memamerkan setidaknya 50 foto berukuran 5 R berisikan foto dokumentasi gambar stensilan yang pernah ia pasang di sejumlah bangunan kota Jogja dan luar Jogja.

Seluruh karya yang dipamerkan Sigit banyak berisikan kritik pedas terhadap penguasa. Pesan yang muncul dalam gambar stensilnya juga tidak jarang berisikan kritik terhadap kian berbahayanya budaya hedonisme yang ditandai dengan menjamurnya produk produk iklan yang menghiasi di sejumlah sudut kota. Baginya, produk itu sangat berbahaya karena secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk hidup konsumtif.

“Setiap lampu merah pasti muncul iklan-iklan. Bahkan termasuk di tembok bangunan sekalipun yang seharusnya netral. Pengendara setiap kali berhenti mendapatkan pemandangan itu semua. Ini sangat berbaya sekali,” ucapnya.

Karena itu, Sigit menampik pandangan yang beredar selama ini bahwa karya milik seniman art street di fasilitas publik hanya merusak pemandangan.

Ia bahkan berharap karya milik senian art street yang beredar di ruang publik selama ini bisa menjadi filter bagi masyarakat dalam mencegah kemungkinan efek terburuk terhadap pemasangan iklan suatu produk. Sigit pun mengaku beberapa kali merusak iklan produk dengan menimpalinya dengan suatu pesan tertentu.