Inflasi DIY September Diprediksi Turun

Ilustrasi inflasi (JIBI/Harian Jogja - Reuters)
26 September 2013 15:58 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menyimpulkan bahwa inflasi Jogja pada September 2013 ini diperkirakan turun.

Prediksi tersebut disimpulkan setelah rapat koordinasi TPID DIY yang memperlihatkan bahwa perkembangan harga-harga sampai dengan 19 September lalu yang relatif terkendali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY Arief Budi Santoso mengatakan, meski ada beberapa komoditas yang masih mengalami kenaikan, pada kelompok barang yang tergolong bahan makanan, banyak komoditas yang harganya turun dan stabil.

“Hingga pertengahan September terlihat bahwa komoditas bawang putih, telur ayam ras dan kentang mulai turun atau stabil,” kata dia, Rabu (25/9/2013).

Selain itu, khusus untuk komoditas beras, stok Bulog sampai dengan akhir September 2013 masih aman. Stok Bulog sampai September 2013 mencapai 20.122,37 ton dan sampai dengan akhir tahun ditargetkan penyerapan beras oleh Bulog DIY akan meningkat mengingat penyerapan masih terus berjalan.

“Stok ini akan mampu untuk mencukupi kebutuhan raskin sampai dengan Januari 2014 dimana Bulog setiap bulan menyalurkan sekitar 4.239 ton beras yang disalurkan kepada 288.571 rumah tangga sasaran,” tambah dia.

Tak hanya itu, harga komoditas gula pasir, pada saat ini cenderung masih turun. Terkait dengan hal tersebut diharapkan kepada Pemerintah Pusat agar dapat mengeluarkan kebijakan agar penurunan harga tidak merugikan petani dan petani masih memiliki insentif untuk tanam tebu.

Pada September 2013, beberapa kelompok barang diperkirakan sedikit mengalami kenaikan. Kelompok tersebut yakni kelompok sandang yang dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan dan kelompok perumahan yang dipengaruhi oleh kenaikan upah tukang bukan mandor dan upah pembantu.

“Sementara itu harga-harga pada kelompok transportasi dan kelompok jasa keuangan setelah Idulfitri mengalami penurunan,” tambah dia.

Menurut dia, secara keseluruhan, faktor yang mempengaruhi relatif rendahnya inflasi di September antara lain tekanan permintaan yang kembali ke arah normal setelah Idulfitri, produksi dan pasokan barang kebutuhan pokok secara umum relatif baik. Selain itu, ekspektasi masyarakat sebagaimana tercermin pada survei konsumen membaik.

“Konsumen berkeyakinan bahwa harga-harga secara umum akan turun. Sementara itu terkait dengan pelemahan nilai tukar, sejalan dengan ditundanya kebijakan tapering Amerika Serikat diharapkan dapat mendorong penguatan nilai rupiah,” tambah dia.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, inflasi Jogja pada September 2013 akan lebih rendah dibandingkan dengan inflasi Agustus 2013, yaitu pada kisaran -0,1% s.d 0,2%.
“Dengan perkembangan tersebut, kami yakin dan optimistis bahwa inflasi Kota Jogja pada 2013 tetap akan berada di bawah angka inflasi nasional,” tutup dia.