Pajak Kendaraan Jateng Nunggak Rp2,4 Triliun, Ini Datanya
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Harianjogja.com, BANTUL -- Warga Dusun Kalangan, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembangkan teknologi bahan bakar alternatif. Aneka limbah pabrik disulap jadi bahan bakar ramah lingkungan yang diberi nama biomass pellet.
Direktur Pemasaran PT Greeno Inovasi Energi pengembang energi alternatif ini Ayus Dodi Kirana mengatakan sejauh ini pihaknya memakai bahan dari limbah pabrik rokok berupa debu tembakau, serbuk kayu dari limbah penggergajian kayu, ampas tebu dari limbah pabrik gula dan limbah serbuk uang kertas yang sudah rusak dari Bank Indonesia.
"Limbah-limbah ini dengan komposisi tertentu, dicampur, kemudian dibentuk menjadi pellet atau lonjong kecil panjang 2cm. Campuran lain adalah gaplek sebagai perekat," tutur Ayus di Pabrik Biomass Pellet Kalangan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul DIY, Kamis (23/10/2014).
Selain memanfaatkan limbah pabrik, sisa pembakaran bio mass pellet ini, berupa asap dan abu juga lebih rendah. Bahkan jika ditaburkan dilahan bisa menjadi pupuk organik jadi sangat ramah terhadap lingkungan.
"Kalau bicara kalori dari olahannya memang tidak terlalu panas tapi sudah cukup jika untuk menggantikan arang. Tidak seperti batubara yang abunya banyak dan masih ada limbah berbahayanya juga," tambah Ayus yang mengaku baru mengembangkan energi alternatif ini lima tahun lalu.
Kapasitas produksi saat ini mencapai 5 ton tiap harinya. Hal ini karena bahan baku yang berlimpah jadi produksi bisa maksimal. Namun kami juga sedang menjajakan distribusi penjualan baru. Sebab permintaan sudah sangat banyak khususnya untuk ekspor.
"Kami produksi mencapai 150 ton per hari. Sedangkan untuk ekpor kami mencapai dua 2 kontener tiap kali pengiriman. Harganya untuk di Indonesia mencapai Rp2.5000 per kilogramnya, sedangkan untuk ekspor US$140 per ton," jelas Ayus.
Karena penggunaannya sedikit berbeda maka pihak produsen memang mengambangkan kompor khusus. Jadi penjualannya memang satu paket dengan kompornya.
Pembina dan Pemasaran PT Jogja Pastika Daya Monita Indrayanti mengatakan energi alternatif ini memang sangat murah. Jika dibandingkan dengan arang, harganya masih bisa diadu. Untuk biogass pellet Rp2.500 per kilogramnya sedangkan arang kayu mencapai Rp3.500 per kilogram.
"Jadi sangat murah. Dan yang penting penyimpanan juga sangat mudah tidak perlu takut lapuk atau basah. Sebab bisa disimpan dalam plastik dengan waktu yang lebih lama," jelas Monita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepatuhan PKB di Jateng baru 54%. Dari 17 juta kendaraan, tunggakan pajak mencapai Rp2,4 triliun dan opsen Rp900 miliar.
Harga emas Pegadaian hari ini, Rabu 23 September 2026, kompak turun untuk Antam, Galeri 24 dan UBS. Simak harga jual dan buyback.
Gerakan Tanam Pertanian Modern Pekalongan baru mencapai 32,5 hektare dari target 2.612 hektare hingga 22 September 2026.
Bahlil Lahadalia menawarkan PLTA Mamberamo Papua kepada investor dengan potensi 23 GW. PLTA Sungai Kayan juga ditawarkan.
SAR menemukan satu korban banjir bandang Solok dalam kondisi meninggal. Dua orang dilaporkan hilang dan pencarian terus dilanjutkan.
Dony Oskaria menegaskan manajer KDKMP bukan pegawai BUMN meski ditugaskan 2 tahun di bawah Agrinas Pangan dengan biaya pemerintah.