Produksi Kopi di Kulonprogo Belum Optimal, Ini Penyebabnya

Sabtu, 01 November 2014 02:40 WIB
Produksi Kopi di Kulonprogo Belum Optimal, Ini Penyebabnya

Bisnis/Rachman HARGA KOPI NAIK Petani memetik biji kopi arabika di perkebunan kopi kawasan Desa Cibodas, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, belum lama ini. Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Barat memprediksi harga komoditas kopi pada 2014 akan naik hingga 10%-20% dari harga jual dipasaran saat ini. Kenaikan tersebut akibat di kawasan utara dunia sudah memasuki musim salju.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Produksi kopi di Kabupaten Kulonprogo belum optimal. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo mengklaim hal tersebut disebabkan budidaya kopi menerapkan pertanian organik, sehingga hasil panen per hektare tidak dapat naik signifikan.

Data yang dihimpun dari Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertanhut) Kulonprogo tercatat produksi kopi di Kulonprogo dari tahun ke tahun fluktuatif, bergantung pada luas panen.

Saat ini, setiap hektare lahan kopi baru menghasilkan sekitar 8,5 kuintal padahal potensi panen kopi di Kulonprogo dapat mencapai 14 kuintal per hektare.

Kabid Perkebunan Dispertanhut Kulonprogo Widiastuti membenarkan produksi kopi di Kulonprogo belum optimal karena menggunakan metode budidaya organik yang mengandalkan bahan alami tanpa campuran produk kimia.

“Ini yang menyebabkan kenaikan produksi kopi tidak bisa signifikan,” tegasnya, Kamis (30/10/2014).

Hasil dari metode organik, kata Widiastuti, dapat terlihat dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun mendatang, sehingga prosesnya tidak instan.

Ditambahkannya, daerah penghasil kopi di Kulonprogo, meliputi Kecamatan Samigaluh, Girimulyo, Pengasih, dan Nanggulan.

Ketua Kelompok Tani Mekar Tani Dusun Nglinggo, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh Teguh Kumoro mengatakan pemupukan tanaman kopi di wilayahnya menggunakan pupuk kandang, sesuai dengan anjuran pemerintah yang mengedepankan kopi alami tanpa campuran bahan kimia.

Ia menguraikan, terdapat 25 hektare tanaman kopi di Nglinggo yang mendapat bantuan 25.000 bibit pada 2010.
“Dalam waktu satu tahun atau satu kali panen, biasanya kami menghasilkan lima ton,” sebutnya. Satu kilogram kopi yang sudah ditumbuk, imbuh Teguh, dijual seharga Rp20.000 per kilogram.

Menurut Teguh, menjadi petani kopi dirasa cukup menguntungkan, terlebih, saat ini mereka mengolah kopi swadaya, mengemas, dan menjual kopi bubuk dengan merek sendiri sehingga meningkatkan harga jual.

Dalam kemasan 100 gram, mereka menjual bubuk kopi kemasan seharga Rp15.000. “Kami berharap panen kopi bisa maksimal dan meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online