OPERASI PASAR : Digelar 2 Kali, Harga Beras Masih Tinggi

07 Januari 2015 19:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Operasi pasar digelar dua kali, tetapi sampai saat ini upaya tersebut belum mampu menekan harga beras.

Harianjogja.com, JOGJA- Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) DIY menggelar Operasi Pasar Khusus Cadangan Beras Pemerintah (OPK CBP) dan Operasi Pasar Cadangan Beras Pemerintah (OP CBP). Namun, dua OP tersebut hingga kini belum mampu menekan harga beras.

Kepala Bulog DIY Langgeng Wisnu Adi Nugroho mengatakan, OPK CBP digelar sejak 5 Januari hingga 20 Januari mendatang. Rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM) OPK di DIY ini sebanyak 288.391 KK. Mereka merupakan penerima beras bagi kalangan keluarga miskin.

“Istilahnya, OPK ini pembagian beras raskin bulan ke-13. Kami menyalurkan sebanyak 4.325 Ton beras yang diambil dari CBP,” ujar Langgeng saat ditemui di kantornya, Selasa (6/1/2015).

Distribusi dan sasaran OPK tersebut, kata Langgeng, tidak ubahnya dengan mekanisme penyaluran raskin. Masing-masing penerima mendapat jatah beras sebanyak 15kg dan membayarnya sebesar Rp1.600 per kg.

“Hari ini (kemarin), kami sudah melaksanakan OPK di DIY kecuali Gunungkidul yang digelar besok (hari ini). Selain membayar laiknya raskin, penerima juga mendapat kartu khusus yang dibagikan oleh Dinas Sosial di masing-masing daerah,” ucapnya.

Berbeda dengan OPK CBP, lanjut Langgeng, OP CBP menyasar masyarakat umum dan pedagang beras. Harga beras yang diambil dari gudang dipatok Rp6.800 per kg sementara ketika di pasar dijual Rp7.400 per kg.

“Perbedaannya Rp600 per kg itu untuk biaya operasional, seperti transportasi dan packing. Kualitas beras yang kami OP-kan itu kelas medium sesuai Inpres 3/2012,” kata Langgeng.

Dia menjelaskan, pedagang bisa mengakses beras OP Bulog namun harus mengantongi rekomendasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemda setempat. Pedagang maksimal dapat mengambil 30 ton beras. Bila dijual ke masyarakat, kuntungan maksimal yang diperbolehkan sebesar Rp200 per kg atau Rp7.600 per kg.

“Sejak pertengahan Desember 2014, sampai saat ini sebanyak 714 Ton sudah disalurkan. Kalau pedagang menaikkan harga besar OP berlebihan, maka akan kami tindak,” ujarnya.

Langgeng mengakui, OP beras yang digelar Bulog sejak Desember lalu memang belum mampu menekan harga beras di pasaran. Alasannya, jumlah beras yang di-OP-kan sedikit karena belum masuk masa panen. Saat ini, harga beras masih stabil tinggi antara Rp9.500 hingga Rp10.000 per kg.

“Kalau jumlah beras OP besar mungkin bisa. Stok kami tinggal 9.000 ton saja. Tapi masih batas aman hingga tiga bulan ke depan,” kata Langgeng.

Sementara Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindagkop-UKM DIY Eko Witoyo optimis pelaksanaan OP beras selama hampir sebulan itu akan mampu menekan harga. Menurut dia, harga beras secara bertahap akan terus menurun seiring dengan semakin dekatnya musim panen.

“Kalau OP dilakukan, harga akan cenderung turun karena permintaan menurun. Apalagi, pertengahan Februari sudah mulai masa panen dan panen raya diprediksi pada Maret mendatang,” ujarnya.

Jumlah RTSPM Sasaran OPK CBP di DIY
Sleman: 60.485 RTSPM
Bantul: 88.611 RTSPM
Kulonprogo: 43.021 RTSPM
Kota Jogja: 16.031 RTSPM
Gunungkidul: 80.243 RTSPM
Total Penerima: 288.391 RTSPM

OPK CBP digelar sejak 5 Januari hingga 20 Januari 2015.
Jumlah sasaran RTSPM di DIY: 288.391 KK
Jumlah beras yang disalurkan: 4.325 Ton
Harga: Rp1.600 per kg, jatah masing-masing RTSPM 15 kg
Kualitas beras: kelas medium

OP CBP digelar sejak 17 Desember 2014 hingga Akhir Januari 2015.
Jumlah sasaran tak terbatas: masyarakat umum dan pedagang beras.
Jumlah realisasi penyaluran: 6 Januari 2015 sebesar 714 ton