RASKIN 2015 : Beras Dianggap Kurang Layak, Warga Pilih Jual Raskin

Warga menjual raskin di Pasar Wates, Kulonprogo. Selasa (12/3/2015). (Holy Kartika N.S/JIBI - Harian Jogja)
12 Maret 2015 06:20 WIB Holy Kartika Nurwigati Kulonprogo Share :

Raskin 2015 sudah dibagikan. Warga Kulonprogo mengeluhkan kondisi beras yang kurang layak sehingga pilih menjualnya

Harianjogja.com, KULONPROGO- Warga berbondong-bondong menjual beras murah bantuan pemerintah ke pasar. Beras bagi warga miskin atau raskin yang didistribusikan Bulog dinilai tidak layak dikonsumsi.

Sejumlah warga berdatangan sambil membawa beberapa karung raskin. Beras tersebut belum lama diterima warga di wilayah Kecamatan Wates dan Kecamatan Temon.

"Sebenarnya [beras] bukan dijual tetapi ditukar dengan beras yang layak dimakan. Kalau kondisi berasnya saja hancur seperti ini, malah kadang ada kutunya, apa layak dikonsumsi," ujar Sukiyem, 52, warga Kelurahan Wates saat ditemui, Rabu (11/3/2015).

Sukiyem mengatakan, kondisi raskin yang diterimanya sangat buruk. Selain terlalu lembut seperti tepung, terkadang raskin yang diterimanya juga muncul kutu dan ulat. Dia mengungkapkan, beras yang baru saja diterimanya untuk jatah bulan Maret itu langsung dibawanya ke pedagang beras di pasar.

"Mau saya tukar dengan yang lebih baik. Kalau yang dituker 15 kilogram, paling dapat beras yang bagus sekitar sembilan kilogram. Kalau memang pemerintah mau memberi bantuan, dikasih sedikit tidak masalah asal benar-benar bisa dimakan," ungkap Sukiyem.

Hal senada disampaikan Nita, 35, warga Kelurahan Wates. Menurut dia, beras raskin saat dimasak teksturnya kurang bagus, bahkan rasanya hambar serta cepat bau setelah dimasak. Dia mengatakan, beras raskin yang diterima umumnya stok lama.

Nita menambahkan, tidak jarang kondisi beras yang disalurkan itu tak layak konsumsi. Dia mengungkapan, daripada dimakan sendiri tidak enak dan tidak bermanfaat, dirinya memilih untuk menukar dengan beras yang lebih layak dimakan.

Setiap kepala keluarga miskin mendapatkan alokasi 15 kilogram yang dihargai Rp25.000 per karung.

"Raskin kalau dimasak tidak enak, cepat bau padahal baru saja dimasak. Mau saya tukar dengan beras yang lebih baik. Kasian kalau beras ini dimakan anak-anak, tidak ada gizinya," ujar Nita.