KEKERASAN BANTUL : Ini Daerah yang Paling Rawan

18 Maret 2015 05:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Kekerasan Bantul paling rawan terjadi di Bambanglipuro.

Harianjogja.com, BANTUL- Kecamatan Bambanglipuro, Bantul saat ini menjadi daerah paling rawan kekerasan terhadap perempuan dan anak. (Baca Juga : http://jogja.solopos.com/baca/2015/03/15/kekerasan-anak-setahun-ada-46-anak-bantul-jadi-korban-kejahatan-seksual-585295">KEKERASAN ANAK : Setahun, Ada 46 Anak Bantul Jadi Korban Kejahatan Seksual)

Hal itu terungkap dari data yang dilansir Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Arum Dalu Kabupaten Bantul. Lembaga di bawah naungan Badan Kesejahteraan Keluarga (BKK) Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Bantul itu mencatat, sepanjang 2014 terjadi 12 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Bambanglipuro. Dari total 72 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2014 di Bantul. Jumlah itu paling tinggi dibanding 16 kecamatan lainnya di Bantul.

Korban diantaranya mengalami kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, penelantaran rumah tangga hingga trafficking.

"Itu data yang dilaporkan ke kami belum yang dilaporkan ke lembaga lain," terang pendamping hukum korban kekerasan P2TP2A Arum Dalu Andrie Irawan, Senin (16/3/2015).

Kasus kekerasan di Bambanglipuro memasuki 2015 juga masih ditemukan. Sepanjang Januari hingga Maret ini ada dua kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Salah satunya dialami anak berusia lima tahun yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Bocah malang ini dicabuli kakek berusia 80 tahun yang tidak lain tetangganya sendiri.

Selain itu, ada pula kasus pemerkosaan yang dialami seorang gadis difabel di kecamatan yang posisinya berada di wilayah bagian tengah Kabupaten Bantul itu.

Kasus kekerasan di Bambanglipuro tercatat naik drastis dibanding 2013. Saat itu tercatat hanya dua kasus
kekerasan di wilayah ini, sementara kasus tertinggi terjadi di Kecamatan Sewon hingga 31 kejadian pada 2013.

P2TP2A Arum Dalu juga mencatat, mayoritas kasus kekerasan di Bambanglipuro melibatkan anak-anak. Mereka kebanyakan mengalami kekerasan seksual. Setiap keluarga menurutnya harus benar-benar menjaga potensi kekerasan terhadap anaknya dengan tidak mudah percaya begitu saja pada setiap orang meski keluarga dekat. (Baca Juga : http://jogja.solopos.com/baca/2015/03/16/kekerasan-anak-ini-dampak-yang-mungkin-dialami-korban-585312">KEKERASAN ANAK : Ini Dampak yang Mungkin Dialami Korban).

"Karena banyak faktor yang menyebabkan pelaku melakukan kekerasan bisa karena lingkungan dia buruk,
pengetahuan dari media. Anak harus diajarkan juga untuk menjaga diri," jelasnya.

Pendidikan seksual sejak dini dianggap penting untuk mencegah seseorang terjerumus menjadi korban atau
pelaku kekerasan.

Kepala Polres Bantul AKBP Surawan membenarkan tingginya angka kekerasan di Bambanglipuro. Belum diketahui pemicu tingginya kekerasan perempuan dan anak di Bambanglipuro. Padahal menurut Surawan, Bambanglipuro bukan merupakan wilayah perkotaan atau berbatasan dengan Kota yang selama ini identik dengan tingginya angka kriminal.