5.000 Pohon Ditanam di JJLS

31 Maret 2015 09:39 WIB Bernadheta Dian Saraswati Bantul Share :

Sebanyak 5.000 bibit pohon ditanam disepanjang Jalan Jalur Lingkar Selatan
Harianjogja.com, BANTUL- Sebanyak 5.000 pohon asem jawa dan trembesi ditanam di sepanjang Jalur Jalan Lingkar Selatan (JJLS), Senin (30/3/2015).

Penanaman yang dilakukan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama perwakilan Pemerintah Kabupaten Bantul dan Kulonprogo ini bertujuan memperindang area jalan baru sepanjang 13 kilometer itu.

Sultan mengatakan, jangan sampai kasus di Kulonprogo terjadi di JJLS. Pohon yang ditanam untuk penghijauan justru dicabut warga dan ditanam di pekarangannya sendiri. Sebaliknya ia meminta agar warga setempat turut menjaga kelestarian pohon.

"JJLS jadi alternatif jalan baru yg masih sangat kekurangan pohon. Inginnya nanti pengendara nyaman karena sejuk," kata Sultan saat pencanangan penanaman 5.000 pohon di Dusun Ngepet, Kelurahan Srigading, Kecamatan Sanden.

Sultan juga menghimbau kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar perawatan pohon menjadi konsen lain selain perawatan jalan. "PU tingkat satu perlu konsisten antara tatanan pohon dengan kondisi jalan," imbuh Sultan.

Sebenarnya, 5.000 pohon tersebut akan ditanam di wilayah Kota Jogja. Namun mengingat banyak bangunan cagar budaya di pusat kota sehingga penanaman pohon dirasa perlu memperhatikan aspek keberlanjutan.

"Jangan sampai kayak Malioboro yang sudah ditanam dibongkar lagi," kata Sultan.

Aksi penanaman pohon itu merupakan bentuk kerjasama antara Pemerintah Daerah (Pemda) Jogja dengan BNI. Sultan mengatakan meski DIY sudah melakukan pembibitan namun kerjasama dalam bidang penghijauan akan terus menarik banyak pihak.

Pimpinan CSR BNI Pusat, Nency Martasuta, mengatakan kegiatan penanaman pohon menjadi bentuk kerjasama dengan Pemda di bidang nonekonomi, fokusnya pelestarian alam.

" Kami tidak hanya mengurusi CSR tetapi juga program ekonomi dan nonekonomi. Untuk penanaman ini ada  4500 pohon asem Jawa dan 500 trembesi," kata Nency.

Menurutnya, DIY merupakan salah satu provinsi terpilih yang layak menerima bantuan pohon. Pihaknya akan terus mengaudit beberapa provinsi lain yang minim penghijauan.

Selain dipilih untuk fungsi perindangan, Asem Jawa juga mengandung aspek filosofis. Menurut Keraton, asem berasal dari kata sengsem yang berarti menyenangkan hati dan senyum yang indah. Sedangkan daunnya yang berjari enam dan memiliki sebutan sinom atau enom bermakna jiwa muda.