SABDA RAJA JOGJA : Inilah Sejarah Kangjeng Kyai Joko Piturun

17 Mei 2015 12:20 WIB Jogja Share :

Sabda Raja Jogja sempat menyebutkan dua pusaka kerajaan.

Harianjogja.com, JOGJA-Kangjeng Kyai Joko Piturun dan Kangjeng Kyai Ageng Kopek disebut-sebut oleh HB X dalam Sabda Raja. Berikut ulasan selengkapnya.

Saat Pangeran Mangkubumi berada di Gunung Sindoro, ia melihat gundukan bulu burung. Setiap kali burung yang melintas di tempat itu, langsung jatuh, mati dan dimakan semut. Ia lalu membukanya, dan didapatinya sebilah keris.

Begitu GBPH Yudaningrat, adik HB X lain ibu, menceritakan asal muasal keris Kangjeng Kyai Joko Piturun. Kala itu, Pangeran Mangkubumi yang tak lain Sri Sultan Hamengku Buwono I lari ke Gunung Sindoro, karena dikejar-kejar oleh Belanda. Bersama istri dan prajuritnya, ia lalu masranggah (tinggal sementara) di Sindoro. Gundukan bulu itu dilihatnya ketika menyusuri gunung mencari makanan dengan berburu binatang untuk istrinya yang tengah mengandung.

Sejak HB I, keris itu diberikan ke calon penerus takhta. Joko yang berarti laki-laki dan piturun adalah turunan.

"Jadi, piturun itu pasti laki-laki," tandas KRT Jatiningrat, cucu HB VIII kepada Harianjogja.com di tempat terpisah.

Menurut Jatiningrat, pusaka itu disimpan di Bangsal Proboyekso, berada di sebuah kotak, dan tersusun rapi disusunan rak-rak dengan nomor registrasi yang telah ditentukan. Tidak sembarang orang dapat mengaksesnya.

Kala HB X menggelar Dawuh Raja-mengganti nama GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, kata Yudaningrat, HB X mengenakan keris Joko Piturun.

"Ngarsa Dalem ngagem Joko Piturun waktu Dawuh Raja [Sultan memakai Joko Piturun saat Dawuh Raja],” jelasnya.

Joko Piturun itu berada di tangah HB X ketika dinobatkan sebagai putra mahkota. Namun jauh sebelum penobatan, konon suatu siang, ketika usai jamasan rutin digelar di Kraton, HB X-lah yang kala itu dipasrahi HB IX untuk mengembalikan ke rak di Bangsal Proboyekso.

"Mas Jun, simpan di Glodog (rak)," begitu kata Romo Tirun menirukan HB menyuruh anaknya yang memiliki nama kecil Herjuno Darpito itu. Momen ini konon disebut-sebut sebagai sinyal bahwa Herjuno dengan nama dewasa KGPH Mangkubumi pasti diangkat sebagai penerus takhta.

Menurut Jatiningrat, pada 1989 silam, saat penobatan, Mangkubumi adalah seorang pengawal Raja bersama puluhan prajurit. Kala itu pria kelahiran 1943 itu masih berusia 46 tahun. Ia berada di sisi kanan belakang HB X ketika duduk di singgasana Raja di Bangsal Manguntur Tangkil.

Kendati demikian, Jatiningrat tak melihat pasti adanya prosesi pemberian keris. Di sisi lain, proses penobatan putra mahkota tersebut tak berselang lama. Kurang lebih lima menit setelahnya, Mangkubumi yang bergelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Nagoro Sudibyo Raja Putra Narendra ing Mataram langsung diangkat sebagai Raja bertakhta.