PEMBUNUHAN SLEMAN : Berikut Kronologi Tewasnya Pedagang Angkringan

Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja - Dok)
22 Mei 2015 11:40 WIB Sunartono Sleman Share :

Pembunuhan Sleman ternyata bermula dari dua gelas kopi dan permintaan utang yang tak terpenuhi.

Harianjogja.com, SLEMAN-Unit Jatanras Ditreskrimum Polda DIY akhirnya berhasil mengungkap kasus pembunuhan terhadap EM. EM adalah wanita berumur 27 tahun yang ditemukan tewas di tempatnya berjualan angkringan di Jl. Janti 65 RT 01 Karangjambe, Banguntapan, Bantul.

Menjelang matahari terbenam, Rabu (20/5/2015), Reza Muhammad Zam, 20, diciduk polisi di indekos
orangtuanya di Kutoarjo, Jawa Tengah. Reza bersembunyi dari kejaran aparat setelah menganiaya EM
sampai tewas. Remaja asal Aceh yang sehari-hari menjadi pengamen itu langsung mengakui perbuatannya begitu didatangi polisi.

Sebelum menganiaya dan menyetubuhi EM, rupaya Reza telah tiga kali datang ke angkringan milik korban. Ia kerap mengamen di sekitar Janti. Pada Sabtu (2/5/2015) dini hari, Reza menyambangi angkringan yang berada di pinggir jalan raya itu tanpa membawa uang sepeser pun. Itulah awal terjadinya kasus yang menggemparkan tersebut.

Reza sempat mengutarakan niat meminjam uang. EM tak menyetujui. Meski demikian, EM membuatkan kopi di malam celaka itu. EM juga sempat meminta Reza untuk menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Tetapi Reza tak memenuhinya. Petikan senar gitar dengan lagu yang lain pun dilanjutkan oleh Reza.

“Sebelum melakukan [pembunuhan] tersangka sudah 30 menit di angkringan itu. Sempat menyanyi dua lagu,” ungkap Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY AKBP Djuhandhani, Kamis (21/5/2015).

Saat ditanya, Reza pun mengaku EM sempat memintanya untuk bernyanyi.

“Lupa judul lagunya, tetapi saya tidak bisa,” ucap Reza di Mapolda DIY.

Dengan alasan permintaannya meminjam uang tak dipenuhi, niat untuk menganiaya EM pun muncul. Kebetulan, angkringan sedang sepi. Secara spontan ia memukul EM yang tengah membuatkan kopi untuknya pada gelas yang kedua.

“Saya mau pinjam uang Rp10.000 tidak boleh, tetapi dibuatkan kopi dua gelas. Sebenarnya tidak tega, saya terpaksa,” ujarnya.

Palu yang biasa digunakan untuk memecah es batu dipakai Reza untuk memukul tengkuk EM. Reza yang kalap, masih menambahi pukulan dengan tangan kosong di bagian kepala. Reza lalu membawa korban masuk ke dalam sebuah kamar atau kios di angkringan tersebut. Ketika itulah niat jahat kembali muncul. Reza memperkosa EM yang sudah tak berdaya.

“Korban ditinggalkan dalam keadaan masih hidup,” kata Djuhandhani.

Sebelum meninggalkan EM yang sudah terkapar, Reza mengambil uang di dalam tas milik korban sebesar Rp757.000. Uang itu yang kemudian digunakan untuk membayar indekos orangtuanya di Kutoarjo. Sisa Rp50.000 dijadikan sebagai barang bukti hasil kejahatan.

Untuk menghilangkan jejak, tas dan gitar yang sebelumnya sempat dimainkan dibakar oleh Reza di angkringan tersebut. Kedua benda yang kini tinggal serpihan arang itu juga menjadi barang bukti kejahatan Reza.

Bagaimana Reza tertangkap?
Seorang sopir taksi menjadi saksi kunci terungkapnya ulah Reza setelah menjadi teka teki selama 18 hari. Polisi juga memeriksa sejumlah saksi yang sempat datang ke angkringan di saat bersamaan dengan Reza.

Ternyata Reza naik taksi menuju Jalan Wates Gamping, Sleman. Reza kemudian naik bus menuju Purworejo. Polisi pun melacak identitas bus tersebut hingga mengetahui keberadaan Reza di Kutoarjo.

Adik kandung EM, DIJ, 18, sempat datang ke Mapolda DIY, Kamis (21/5/2015) saat mendengar pembunuh kakaknya tertangkap. Dia ingin Reza dihukum setimpal.

“Saya akan terus kawal sidangnya,” ujar dia.