SENIMAN MILIADER : Berkarya Malam, Pagi atau Siang, Tergantung Waktu Tidur (Bagian 3-selesai)

I Nyoman Masriadi (JIBI/Harian Jogja - Andreas Tri Pamungkas)
09 Juli 2015 20:20 WIB Sleman Share :

Seniman miliader asal Jogja akan berkarya menyesuaikan dengan waktu istirahat.

Harianjogja.com, SLEMAN-I Nyoman Masriadi kini menikmati kesuksesannya sebagai pelukis di rumah yang dia bangun di lahan seluas 5.000 meter persegi. Awalnya, dia menjual lukisan seharga Rp2 juta.

Setelah gempa 2006, Masriadi mulai membangun rumah di Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Rumah yang berdiri di lahan seluas 5.000 meter persegi itu dibentengi dinding tumpukan batu bata khas Bali. Namun, Nyoman enggan menjabarkan detail bangunan rumahnya.

“Ini privasi,” ujar dia beberapa waktu lalu.

Sore itu, beberapa tukang bangunan terlihat berada di sudut- sudut rumahnya. Masriadi yang mengenakan celana pendek dan kakinya berlepotan cat sedang mempersiapkan taman luas yang dapat difungsikan untuk perlombaan seni. Menara penampungan air setinggi kurang lebih 15 meter telah dibangun, menjulang tinggi menandai letak rumahnya. Tampungan disiapkan untuk merawat tanaman yang menghiasi taman itu.

“Aku suka tanaman yang berbunga dan berbuah,” ujar dia.

Desain cetak biru studio impiannya juga sudah siap. Kawannya yang seorang arsitek menggambarkan khusus untuknya. Tinggal membangun di bagian lain halaman rumahnya. Namun pria yang memperoleh penghargaan Inaugural Award Recipient Asia Society Hong Kong ini mengaku studio itu masih impian jangka panjang.

Kini, ia masih menikmati ruang kerja yang sebenarnya ruang keluarga yang ia sulap jadi studio. Ruang kerjanya itu menjadi saksi kehidupan kesehariannya, baik malam ataupun siang yang ia habiskan di papan kanvas. “Berkarya bisa malam, pagi, siang, tergantung tidurnya,” kata dia.

Masriadi butuh waktu lama untuk menjadi perupa lukisan bernilai miliaran rupiah. Mulai 1997-1998 sekembalinya dia ke Jogja, dia ikut pameran dan lukisannya mulai laku Rp2 juta. Masriadi juga mengindung kerja dengan orang lain dari galeri satu ke galeri lainnya selama 13 tahun. Kini ia bekerja sendiri. Dia melibatkan istrinya hingga saudara-saudaranya untuk mengurus lukisannya, dari mengatur jadwalnya sampai mengelola website. Menurut Masriadi, nilai sebuah lukisan tak bisa diukur secara pasti.

“Seperti jualan barang antik atau akik. Mereka [kolektor lukisan] sudah tahu barang bagus atau enggak,” terang dia.

Meski memilih di jalur pop art, menurutnya, seni rupa tak bisa disejajarkan dengan karya musik atau film. Ia mencontohkan, lagu yang enak didengar akan lebih cepat naik daun.

“Film juga begitu, mirip-mirip. Kalau seni rupa harus beda sama sekali. Lain dari yang lain, wacananya dan penjelasannya harus beda,” ucap dia.

Semakin lama berkarya, lukisan memiliki nilai yang semakin tinggi. Bahkan, menurutnya, seni rupa akan teruji, jika sang pelukis itu tiada namun nilai lukisan itu terjual kian mahal.
Ia mencontohkan Sindusudarsono Sudjojono yang dijuluki sebagai Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. Meski sudah meninggal, karya Sudjojono masih laku hingga miliaran rupiah dalam lelang.
“Karya bagus, harus sempat rusak, sempat gagal,” ujarnya.