NELAYAN GUNUNGKIDUL : Baca Bahasa Alam Lewat Gadget (1/3)

HARIANJOGJA/GIGIH M. HANAFIKEMBALI MELAUT-- Beberapa nelayan merapikan jaring yang baru saja digunakan melaut di Pantai Baron, Gunung Kidul, Selasa (28 - 2). Kondisi cuaca yang mulai membaik di perairan Laut Selatan para nelayan kembali melaut setelah sempat menganggur selama sekitar dua bulan akibat cuaca buruk. Setiap hari mereka rata/rata mendapatkan tangkapan yang sebagian besar berupa ikan tongkol sekitar 30 Kilogram per hari dan dijual dengan harga Rp 10.000 per kilogram.
08 Februari 2016 17:22 WIB Gunungkidul Share :

Nelayan Gunungkidul menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi saat ini.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Terhempas ombak dan angin malam sejak 1993 yang lalu, tak pernah meluruhkan semangat Sugino (41th) untuk terus mencari nafkah untuk keluarganya, Seorang pria dengan satu istri dan satu anak itu hidup di sebuah rumah sederhana di pinggir pantai Baron di Dusun Kemadang Kulon, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul.

[caption id="attachment_689009" align="alignright" width="370"]http://images.harianjogja.com/2016/02/nelayan-gunungkidul.jpg">http://images.harianjogja.com/2016/02/nelayan-gunungkidul-370x247.jpg" alt="Sugino (41th), Berprofesi sebagai Nelayan Pantai Baron di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul dan telah berpengalaman selama 22 tahun di medan laut lepas. (Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja)" width="370" height="247" /> Sugino (41th), Berprofesi sebagai Nelayan Pantai Baron di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul dan telah berpengalaman selama 22 tahun di medan laut lepas. (Mayang Nova Lestari/JIBI/Harian Jogja)[/caption]

Nelayan, tak pernah ia terpikir untuk menjalankan profesi itu. Bayangan akan medan yang berat dan waktu yang semakin sedikit untuk bertemu dengan keluarga membuat ia harus berpikir dua kali. Namun pekerjaan yang sulit didapat pada masa itu membuat ia harus memutuskan, "Sugi, kepada siapa lagi keluargamu akan menggantungkan hidup jika tidak kepadamu," tanyanya kepada diri sendiri.

Selama kurang lebih 22 tahun ia berkawan dengan jala serta bergelut dengan ombak. Kekhawatiran sempat datang dari berbagai pihak, khususnya keluarganya.

"Yang membuat saya bertahan adalah keadaan, ya biaya sekolah anak, ya untuk makan sehari-hari," katanya, Kamis (4/2/2016).

Pendapatan yang ia peroleh juga tak selalu menentu. Sehari biasanya maksimal hanya mendapatkan Rp100.000 hingga Rp150.000. Ia sering tak dapat berbuat apa-apa, sebab memang keadaan alam yang menentukan. Bermodalkan kapal bantuan yang ia dapat dari Kelompok Nelayan, ia terus menjalankan perahunya bahkan hingga ke pinggiran pantai Parangtritis.

Sugino tak akan dan tak bisa bosan dengan pekerjaan sebagai nelayan. Ia hidup dan besar dari keluarga nelayan, adik kandung dan adik iparnya juga berprofesi sebagai nelayan. Namun ia juga tak menampik bahwa pekerjaan sebagai nelayan sangatlah sulit, ia harus dapat mengerti arah angin, tinggi gelombang, serta arus air yang cocok untuk melaut.

Ditengah-tengah obrolan Sugino tiba-tiba mengeluarkan sebuah gadget dari kantongnya. Terlihat ia membuka menu mesin pencari dengan sangat sigap dan cekatan, kemudian mengetik sebuah alamat website.

"Ini saya pakai internet untuk ngecek kondisi cuaca di laut, buat lihat kecepatan angin, tinggi gelombang, supaya bisa waspada sejak awal," katanya dengan penuh semangat kepada Harianjogja.com.

Ia menyebutkan beberapa istilah-istilah asing yang awam diucapkan orang-orang "pinggiran" seperti dirinya. Ia mengaku tak ingin ketinggalan perkembangan jaman. Sebelumnya tidak ada himbauan dari kelompok nelayan untuk memanfaatkan teknologi. Baginya setiap orang memiliki kesempatan untuk menikmati akses internet, tak terkecuali nelayan dari Gunungkidul sepertinya.

"Saya harus mengikuti perkembangan jaman yang positif tentunya, hal-hal semacam ini kan dapat memudahkan pekerjaan juga," katanya.

Selama menjadi nelayan ia terus menikmati profesinya tersebut. Ia sangat bangga menjadi seorang nelayan. Ia bercerita bagaimana saat ia akan berangkat melaut. Seperti biasa, malam harinya ia melakukan persiapan dengan jala, alat penerang, serta memastikan perahunya terisi bahan bakar penuh. Terakhir, melihat kondisi laut dengan bantuan gadget murahan, begitu ia menyebutnya.

Pukul dua dini hari ia sudah pergi meninggalkan rumah, istri, serta anak semata wayangnya, Rahajeng Ardaninggar, yang masih terlelap. Ia pun menuju Pantai untuk mempersiapkan perahunya. Sesampainya di laut ia bertemu dengan kawan-kawan seperjuangannya. Mereka saling bahu-membahu untuk mendorong perahu ke laut, karena tak akan mampu seorang diri. Lepas pukul empat ia mulai menjalankan perahunya menuju laut lepas, Menitipkan keluarga dan orang tercinta untuk pergi mencari lebih dari sesuap nasi.