WISATA JOGJA : Fasilitas Transportasi Masih Tertinggal

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoSejumlah warga mengsung gunungan sebagai salah satu sesaji untuk dilabuh dalam acara Kirab Budaya di Pantai Goa Cemara, Kelurahan Gadingsari, Kecamatan Sanden, Bantul, DI. Yogyakarta, Rabu (14/10 - 2015). Labuhan itu digelar oleh pelaku pariwisata Pantai Goa Cemara sebagai bagian dari ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan YME atas potensi wisata pantai tersebut dan sebagai rangkaian peringatan 1 Sura dalam penanggalan Jawa.
28 Februari 2016 15:20 WIB Jogja Share :

Wisata Jogja belum memiliki sistem transportasi terpadu.

Harianjogja.com, JOGJA – Pengembangan objek wisata di DIY meninggalkan tugas baru. Pemda DIY mesti mengembangkan akses transportasi bila serius mengembangkan sektor pariwisata.

Kepala Sub Bagian Program dan Informsi Dinas Pariwisata DIY Setiawan dalam Diskusi Wartawan di DPRD DIY Jumat (26/2/2016) mengatakan sejauh ini pengembangan sektor pariwisata di DIY belum dibarengi dengan pengembangan fasiltias transportasi dan fasilitas penunjang lainnya.

Akibatnya muncul beberapa keluhan terkait kemacetan saat menuju lokasi wisata populer. Hal itu dinilainya cukup menghambat dalam memberikan kesan positif terhadap kunjungan ke DIY. Padahal menurutnya sejauh ini sektor pariwisata sudah cukup menghasilkan PAD yang lumayan.

Di Sleman misalnya, 2015 lalu Dispar mencatat pemasukan sebesar Rp189miliar. Sedangkan Jogja meraih pemasukan Rp110miliar. Gunungkidul menjadi daerah dengan lonjakan PAD dari pariwisata terbesar. Dari yang sebelunya hanya Rp8miliar, 2015 lalu mereka mengantongi PAD sebesar Rp40miliar.

Lonjakan itu menurutnya dipengaruhi oleh tereksposnya berbagai obyek wisata baru di kabupaten paling timur DIY itu. Dari Goa Pindul saja terkumpul Rp2,8 miliar dari 1,1 juta pengunjung. Selain itu masih ada pula obyek wisata lain yang belakangan mulai melejit seperti Nglanggeran dan Bleberan.

“Saya rasa sudah saatnya meningkatkan koordinasi antar SKPD untuk hal ini. Karena dulu Dispar dikejar menaikkan jumlah wisatawan tapi nuwun sewu, belum diimbangi SKPD lainnya,” kata dia.


Pernyataan Setiawan diamini Kepala Bidang Perekonomian Bappeda DIY Sugeng Purwanto.

Dia mengakui perkembangan sektor pariwisata di DIY memang mengalami pertumbuhan yang pesat. Dalam 10 tahun, jumlah kunjungan ke DIY meningkat hampir empat kali lipat. 2005 lalu hanya sekitar 1,07 juta wisatawan domestik dan 103.000 wisatawan mancanegara. 2015 jumlahnya menjadi 3,8 juta wisdom dan 308 wisman.

Sugeng juga mengakui muncul keluhan terkait kemacetan terutama di jalan menuju obyek wisata di Gunungkidul dan Kulonprogo. Untuk ke pantai Baron di Gunungkidul dari Jogja misalnya menurutnya bisa membutuhkan waktu lebih dari empat jam pada masa peak season. Padahal dalam waktu normal dibutuhkan waktu tempuh tak sampai dua jam.

“Kami sudah menyiapkan beberapa opsi solusi. Untuk Gunungkidul misalnya kami akan membangun jalur melewati JJLS (Jalan Jalur Lintas Selatan)” ungkap Sugeng.

Soal proyek itu, Sugeng mengatakan saat ini mereka sudah membangun 64,91km dari 121,828 JJLS. 1 jembatan dari 12 jembatan juga sudah rampung dilkukan. Proyek itu menyisakan tugas untuk menggarap 56,918km jalan dan 11 jembatan lain. Pemda juga masih harus membebaskan lahan seluas 247,2 hektar.

“Kami juga ada rencana membangun jembatan kelok 15 untuk menghubungkan JJLS ke Gunungkidul yang sangat curam.. Kalau semua rampung mudah-mudahan akses wisata ke sisi Timur bisa teratasi,” ungkap dia.

Selain JJLS, Sugeng mengatakan Pemda juga tengah menggarap pelebaran jalan di beberapa titik. Namun tak semua akses wisata mendapatkannya karena mereka juga harus memperhatikan status kawasan dan kelestarian wilayah wisata.

Peneliti Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM Desta Titiraharja mengapresiasi upaya Pemda. Namun dia mengingatkan tak semua wisatawan memiliki atau mampu menyewa kendaraan pribadi. Keberadaan angkutan umum pun patut menjadi perhatian bagi Pemda untuk menunjang akses transportasi.

“Perlu dicatat, tak semua wisatawan punya uang untuk menyewa mobil,” kata dia.