WISATA KULONPROGO : Mengenang Kejayaan Stasiun Peninggalan Belanda

Stasiun Kedundang Kulonprogo, Rabu (24/2/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
28 Februari 2016 02:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Wisata Kulonprogo mengenai stasiun tua.

Harianjogja.com, KULONPROGO- Stasiun Kedundang kini hanya menjadi sebuah bangunan kosong yang tak terpakai di sudut Dusun Trukan, Desa Kulur, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Tak terlihat ada aktivitas apapun di stasiun yang berhenti beroperasi pada tahun 2007 silam sejak rel ganda dioperasikan ini.

Jalannya sendiri masih berupa jalan tanah sederhana berkerikil hingga ke bagian depan stasiun. Di halaman depan stasiun, beberapa pohon kamboja tumbuh tinggi serta pohon-pohon singkong. Selain itu, adapula rumput yang tumbuh liar memenuhi halaman stasiun tersebut.

Dinding-dinding stasiun ini kini terlihat kumuh dan kotor dengan dipenuhi lumut. Selain itu, ada pula coretan tangan-tangan nakal dan grafiti di setiap sisi dinding semua ruangannnya. Seakan belum cukup, kesan terlantar semakin terbangun dengan langit-langit ruangan yang sudah ambrol di sana-sini. Meski masih cukup rapi, beberapa genteng yang menaungi stasiun ini sudah rusak.

Segala yang terpampang menujukkan kesan stasiun tersebut tak lagi terurus sejak ditinggalkan beberapa tahun lalu. Hanya saja, papan nama stasiun tersebut masih terpampang rapi di sisi jalur kereta api. Bahkan, rumah dinas kepala stasiun pun masih berdiri meski kini tertutup alang-alang yang tumbuh liar di sekitarnya.

Secara keseluruhan, bangunan ini terdiri dari empat buah ruangan. Meski tak lagi tertera plang di bagian pintunya, diduga keempat ruangan merupakan ruang tunggu penumpang, pelayanan tiket, kepala stasiun, dan ruang pengatur perjalanan kereta api(PPKA). Semuanya masih berdiri dengan kokoh meski tampak kerusakan di sana-sini.

Selain karena kondisinya, stasiun itu juga terkenal angker karena merupakan salah satu stasiun peninggalan Belanda dulu.  Yohanes Sapto Prabowo, salah satu anggota komunitas Indonesian Railways Preservation Society(IRPS) menjelaskan stasiun tersebut merupakan peninggalan perusahaan Staatspoorwegen(SS) milik Belanda.

Karena itulah, sejak masih aktif pun stasiun tersebut sudah terkenal angker. Pasalnya, daerah tempat stasiun tersebut berada dahulu berbuki-bukit dan berada dekat dengan hutan. Apalagi akses menuju stasiun tersebut yang masih sederhana sejak dulu. Ia mengisahkan bahwa di kalangan komunitanya berkembang cerita bahwa meski sudah mati, masih ada sosok yang suka berjalan-jalan di stasiun tersebut kala malam hari.

“Itu katanya yang jaga palang pintu,”ujar prai yang akrab dipanggil Bowo ini saat dihubungi Harianjogja.com, Jumat(26/2/2016).

Selain itu, ada pula rumor dahulu ada orang yang sedang iseng istirahat dan bersantai di stasiun tersebut, tetapi kemudian hilang tak berbekas. Bowo menambahkan bangunan stasiun yang tak lagi terurus memang menambah kesan mencekam bagi pengunjung yang datang. Ia sendiri sudah pernah dua kali berkunjung ke stasiun tersebut sejak dinoanaktifkan. Sebelumnya, ia juga sempat beberapa kali berhenti di stasiun tersebut kala kereta yang ditumpangi menurunkan penumpangnya di sana.

Meski banyak kisak horor yang menyebar di kalangan luas, Tumini warga desa setempat yang tinggal hanya berjarak beberapa meter dari stasiun tersebut menyatakan tidak pernah megalami hal-hal yang menyeramkan.

“Cerita sih ya memang banyak, tapi saya tidak pernah mengalami tuh,”ujarnya. Meski demikian, anak-anak sekitar memang cenderung dilarang untuk bermain di lingkungan stasiun tersebut. Hanya saja, kadangkala anak-anak setempat duduk di stasiun tersebut khusus untuk memandang kereta yang lewat.

Ia juga mengenang masa kanak-kanaknya kala sering menumpang kereta barang yang lewat di stasiun tersebut untuk berangkat ke sekolahnya yang terletak di Wates. Dengan membayar beberapa sen maka berbondong-bondong lah anak sekolah pada masa itu menumpang kereta yang hanya singgah di stasiun ini. Dahulu, kereta barang ini membawa berbagai macam komoditas seperti gaplek dan beras. Selain itu, banyak pula pedagang yang mencari nafkah di sekitar stasiun tersebut. “Dulu waktu saya kecil, di sini ramai sekali tidak seperti sekarang,”kenangnya.