KARTU MENUJU SEJAHTERA : Tahun Depan, Raskin Diganti Voucher

10 Oktober 2016 05:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Kartu Menuju Sejahtera menerapkan aturan baru tahun depan.

Harianjogja.com, JOGJA -- Mulai awal tahun depan, warga Kota Jogja yang selama ini menerima bantuan beras miskin (raskin) dari pemerintah tidak akan lagi menerima beras, melainkan dalam bentuk uang non-tunai melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) atau semacam voucher belanja.

“Tiap bulan mereka akan menerima uang non-tunai sebagai pegganti beras yang bisa dibelanjakan kebutuhan pangan sehari-hari di e-Waroeng,” kata Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi, Hadi Muhtar, saat dihubungi Minggu (9/10/2016).

Hadi mengatakan ada 16.031 kepala keluarga di Jogja penerima raskin. Selama ini bantuan raskin dalam bentuk beras sebanyak 15 kilogram. Namun, kedepan secara bertahap raskin akan diganti dengan uang masing-masing sebesar Rp110 ribu. Uang tersebut tidak diberikan langsung melainkan non tunai.

Penerima raskin hanya menerima kartu semacam kartu kredit yang setiap bulan diisi oleh pemerintah melalui Kementrian Sosial. Uang yang ada dalam kartu tersebut tidak akan hangus meskipun tidak habis dibelanjakan dalam sebulan, melainkan akan terakumulasi pada bulan berikutnya.

Menurut Hadi, penerima raskin bebas bisa membelanjakan selain beras, seperti gula pasir, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya yang sudah disediakan di elektronik warung gotong royong atau e-Waroeng yang berlokasi di Bintaran Kidul, Mergangsan.

Untuk memudahkan akses KKS, kedepannya, Dinsosnakertrans Jogja akan memperbanyak e-Waroeng karena satu e-waroeng saat ini hanya mampu melayani sekitar seribu KKS. Rencananya dalam waktu dekat, e-Waroeng akan didirikan di wilayah Umbulharjo. “Kami ingin setiap kecamatan nantinya ada e-Waroeng,” ujar Hadi.

Kepala Dinas Sosial DIY, Untung Sukaryadi menyatakan tidak hanya di Kota Jogja, e-Waroeng juga akan dihadirkan Bantul, Sleman, Gunungkidul, dan Kulonprogo. Menurutnya, layanan e-Waroeng kedepannya juga tidak hanya menyediakan sembako, melainkan berbagai kerajinan masyarakat DIY.