PUNGLI BANTUL : Pejabat Dikmenof Bantul Akui Pernah Diberi Amplop

Sejumlah pejabat Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal Kabupaten Bantul saat lakukan klarifikasi di ruang sidang Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bantul, Kamis (20/10/2016). (JIBI - Irwan A. Syambudi)
21 Oktober 2016 10:55 WIB Irwan A Syambudi Bantul Share :

Pungli Bantul ditelusuri oleh DPRD

Harianjogja.com, BANTUL—Kepala Bidang Pendidikan Non Formal, Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal (Dikemenof) Kabupaten Bantul, Catur Retno Widati mengakui pernah terima amplop. Namun kepada stafnya, dia meminta agar amplop yang berisi uang tersebut digunakan untuk membeli makanan bersama.

Baca juga : http://www.harianjogja.com/baca/2016/10/19/pungli-bantul-guru-tk-sd-ditarik-uang-syukuran-pencairan-tunjangan-sertifikasi-benarkah-761754" target="_top">PUNGLI BANTUL : Guru TK & SD Ditarik Uang Syukuran Pencairan Tunjangan Sertifikasi, Benarkah?

Anggota Komisi D DPRD terus memcerca pertanyaan kepada pejabat Dikemenof tersebut. Salah satu Anggota Komisi D Subhan Nawwawi mempertanyakan perihal adanya setoran sejumlah uang dari guru TK dan PAUD.

Subhan juga mempertanyakan adanya dugaan bahwa setoran tersebut dikoordinir di setiap kecamatan setelah guru mendapatkan tunjangan sertifikasi.

Sementara itu Supriyono anggota Komisi D lainya meminta para pejabat Dikmenof untuk berterus terang terkait adanya dugaan pungutan liar atau gratifikasi yang dituduhkan kepada mereka.

Dia mengaku sudah mengantongi data-data terkait dengan adanya dugaan pungutan liar atau gratifikasi yang dilakukan oleh pejabat Dikmenof. Sebelumnya dia mengatakan telah meminta keterangan terhadap dua staf Dikemenof berinisial I dan S yang diduga mengetahui perihal adanya pungutan atau gratifikasi tersebut.

“Memang kami pernah mendapatkan seperti itu tapi terus terang kami tidak terima, kemudian kami bersama staf agar dibelikan makanan untuk bareng-bareng, kadang memang seperti itu. Ada juga yang tidak berupa amplop. Langsung membawa snack dan nasi kotak untuk diberikan langsung kepada kami,” ujar catur saat dimintai klarifikasi oleh anggota Komisi D DPRD Bantul, Kamis (20/10/2016).

Bersambung halaman 2

Catur membantah jika masing-masing guru yang mendapatkan tunjangan serifikasi memberikan dana syukuran. Namun, kata dia, ada sebagian dari mereka yang merasa terbantu setelah dibantu mengurus persyaratan serifikasi dan legalitas untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi tersebut. Jadi kata dia, mereka yang merasa terbantu biasa biasanya ada yang memberikan snack dan nasi kotak.

Kasi Pendidikan Anak Usia Dini dan Tanaman Kanak-Kanak, Hartanto mengakui bahwa salah seorang stafnya berinisial S memang pernah memberikan amplop untuk syukuran.

“Besarnya juga tidak seberapa. Saya tidak tahu itu dari mana. Baru sekali itu dia [stafnya] memberikan kepada saya, setelah itu saya berikan ampop itu kepada teman saya. Saya tidak tahu itu uang dari mana cuma diselip-selipkan ke saya,” ungkapnya.

Namun terkait dengan amplop yang disinyalir juga diberikan kepada Kepala dinas dan Kepala Bidang, dia mengaku tidak mengetahuinya. “Saya tidak tahu betul terkait adanya orang yang mengkoordinir pungutan di setiap kecamatan itu. Terus adanya amplop ke Kabid dan Kepala Dinas kami juga tidak tahu betul, saya tidak tahu betul, hanya sekedar itu yang saya tahu. Saya sama Ibu Catur ingin mengarah kepada berubahan yang lebih baik tapi kalau akhirnya seperti ini ya saya tidak apa-apa,” jelasnya.

Menanggapi sejumlah keterangan yang diungkapkan oleh pejabat Dikmenof, Ketua Komisi D Enggar Suryo Jatmiko akan melakukan kajian dan investigasi. Dia mengaku akan membongkar apa yang sebenarnya terjadi di Dikmenof.

“Karena ini sudah mencuat maka kami akan bongkar terlebih dahulu sebernarnya apa yang sudah terjadi di Dikmenof. Komisi D tidak akan mentolerir pungli atau gratifikasi dalam bentuk apapun, jika nanti kami menemukan bukti nanti akan kami memberikan rekomendasi sangsi terberat kepada oknum-oknum tersebut,” kata Enggar.