Pendidikan Abad 21 Perlu Skenario Global

Sejumlah guru SD belajar mengoperasikan komputer guna menunjang sistem penilaian kurikulum 2013 di gedung Persatuan Guru Republik Indoneia (PGRI) Klaten, Jumat (19/8/2016). Saat ini, jumlah guru SD yang belum melek teknologi dinila masih banyak. (Ponco Suseno/JIBI - Solopos)
24 Oktober 2016 13:55 WIB Jogja Share :

Pendidikan abad ke 21 memerlukan skenario global

Harianjogja.com, JOGJA -- Konsep pendidikan abad 21 yang mulai berkembang pada saat ini harus berelevansi pada perkembangan zaman. Hal itu penting agar ciptaan-ciptaan yang dibuat akademisi maupun praktisi tidak membawa kemudaratan pada hidup manusia.

"Dalam menghadapi abad ke-21, kita perlu skenario pendidikan global, termasuk proses pengajaran, pembelajaran, amalan pedagogi, peranan teknologi dan media serta impak [dampak] globalisasi," ungkap Prof Dato Dr Adnan Hussein,  Guru Besar Universiti Sains Malaysia dalam orasi ilmiah Universitas Mercu Buana (UMBY) di Grand Pasifik, Sabtu (22/10/2016).

Relevansi itu, menurut Adnan dilakukan melalui perubahan kurikulum, penilaian pembelajaran dan semua aspek yang berkaitan denga kemunculan teknologi baru. Konsep pendidikan pun perlu bersifat kolaboratif.

Kolaborasi tersebut akan mampu melahirkan berbagai inovasi yang menakjubkan dan pembelajaran secara terbuka tanpa meninggalkan keselarasan hidup manusia.

Keselarasan antar pendidikan dan kehidupan manusia itu terkait dengan kemajuan ekonomi, keadilan serta kesamarataan sosial dan perlindungan alam sekitar. Dengan demikian pendidikan bukan justru bertentangan dengan keselarasan hidup manusia.

"Demi kelestarian hari esok, pendidikan hendaknya menyumbang kepada kelestarian dan kehidupan manusia secara menyeluruh agar revolusi teknologi yang terjadi dan bersifat kolaboratif dapat mengimbangi dunua pendidikan yang berteraskan kelestarian," tandasnya.

Sementara Rektor UMBY, Dr Alimatus Sahrah mengungkapkan banyak tantangan yang harus dihadapi lulusan perguruan tinggi (PT). Di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, generasi muda diharapkan dapat melanjutkan cita-cita perjuangan bangsa serta berkomunikasi antarbangsa.

"Globalisasi dan teknologi yang begitu masif perlu kesiapan diri agar dapat beradaptasi terhadap perkembangan yang ada tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi ciri khas bangsa," ungkapnya.