APBD Perubahan Gunungkidul: Transfer Turun, PAD Dinaikkan
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Pelaksana Tugas Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Khairudin saat melakukan simbolisasi penanaman kakao di Kebun Induk Kakao Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul, Jumat (18/11/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Pertanian Gunungkidul terus berinovasi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul membuat Kebun Induk Kakao di lahan seluas satu hektare milik Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembenihan. Harapannya dengan adanya demplot pembenihan maka petani kakao tidak perlu susah-susah mendatangkan benih dari luar daerah.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul Bambang Wisno Broto mengatakan, potensi kakao yang dimiliki petani sangat bagus. Terlebih lagi produksi yang dihasilkan memiliki kualitas yang unggul sehingga memiliki prospek bisnis yang sangat menjanjikan.
Sayangnya, pengembangan budidaya tanaman ini terkendala pada bibit. Sebab selama ini benih dari petani banyak didatangkan dari Jember, Jawa Timur. Oleh karenanya, kata Bambang, Dinas Kehutanan dan Perkebunan berinisiatif membuat Kebun Induk Kakao di UPT Pembenihan. Harapannya jika program ini berjalan baik maka petani tidak perlu lagi mendatangkan benih dari luar daerah.
“Kalau bisa dicukupi dari wilayah sendiri maka ongkos yang dikeluarkan juga lebih kecil, sehingga keunntungan yang didapatkan juga bisa lebih besar. berbeda kalau benihnya masih dari luar karena ada tambahan biaya untuk mendatangkan bibit-bibit itu,” kata Bambang kepada wartawan saat peresemian Kebun Induk Kakao, Jumat (18/11/2016).
Dia menjelaskan, di dalam kebun induk ini terdapat dua jenis kakao yang dibudidayakan, yakni jenis 5858 dan Sulawesi 1. Dua jenis ini merupakan benih unggulan karena produktivitasnya bisa mencapai 1,6-2,5 ton per hektarenya. “Ya kalau dibandingkan dengan benih yang ditanam jelas tidak sebanding, karena hasilnya masih di bawah satu ton per hektarenya,” paparnya.
Bambang pun berharap, dengan berdirinya pusat budidaya ini dapat memberikan banyak keuntungan terhadap petani. Salah satunya mampu meningkatkan kesejahteraan petani, sebab proses mendapatkan benih lebih mudah dan dapat dipenuhi dari wilayah sendiri. “Saat ini budidaya benih kakao yang ditanam sebanyak 1.200 batang,” kata dia.
Terpisah, Kepala Dinas Kehutanan DIY R Sutarto mengatakan, proses budidaya kakao sudah dimulai sejak 1987 lalu, dengan fokus pengembangan di Kulonprogo dan Gunungkidul.
Hingga saat ini luas area lahan kakao di DIY mencapai 4.200 hektar, dengan rincian luasan 1.300 hektare berada di Gunungkidul dan sisanya berada di Kulonprogo. “Meski luasannya masih sedikit, tapi hasil kakao Gunungkidul merupakan salah satu komoditas unggulan di DIY,” kata Sutarto.
Dia pun berharap, dengan pendirian Kebun Induk Kakao dapat meningkatkan area luas tanaman dan produktivitas di Gunungkidul. “Mudah-mudahan itu bisa dicapai, apalagi jenis yang dikembangkan juga termasuk kualitas unggul,” kata Sutarto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
APBD Perubahan Gunungkidul 2026 mulai dibahas. Pendapatan turun Rp50,65 miliar, sementara PAD dinaikkan untuk menutupinya.
Digitalisasi bansos telah menjangkau 258 daerah di 38 provinsi dengan lebih dari 4,2 juta keluarga terdaftar hingga 1 September 2026.
BTS mengakhiri tur Amerika Utara ARIRANG dengan 1,92 juta penonton dan mencetak rekor baru di SoFi Stadium.
Tujuh aplikasi edit suara Android membantu membuat audio lebih jernih untuk podcast, musik, hingga konten media sosial.
Jadwal bola malam ini 9-10 September 2026: Liga Champions menyajikan laga Liverpool, Barcelona, PSG, Arsenal, hingga Piala Liga Inggris dan Liga Arab.
Badan Geologi bergabung ke BMKG dinilai dapat mempercepat peringatan dini bencana dan mengurangi duplikasi kerja serta hambatan data.