BATIK KULONPROGO : Ekonomi Lesu, Omzet Penjualan Batik Menurun

Pengunjung melihat-lihat produk batik Kulonprogo di salah satu lokasi produksi di Sembunga, Gulurejo, Lendah, Rabu (23/11/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
25 November 2016 14:18 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Batik Kulonprogo mengalami penurunan penjualan

Harianjogja.com, KULONPROGO-Omzet penjualan batik lokal Kulonprogo menurun sebanyak 20% selama 3 bulan terakhir. Tren negatif ini diprediksi akan terus berlangsung hingga penghujung tahun.

Umbuk Haryanto, pemilik salah satu produk batik di Lendah mengatakan penurunan omzet merupakan dampak lesunya perekonomian selama beberapa waktu terakhir.

“Semua pasar batik lesu bahkan Pekalongan yang sentranya,” ujarnya ditemui di gerainya, Rabu (23/11/2016). Ia menjelaskan jika akhir tahun biasanya memang sering terjadi penurunan pasar.

Meski demikian, ia optimis penjualan akan pulih kembali memasuki awal tahun. Kenaikan salah satunya disebabkan tingginya permintaan batik untuk kebutuhan seragam sekolah memasuki tahun ajaran baru. Selain permintaan dari masyarakat, permintaan batik juga datang dari berbagai institusi pendidikan dan pemerintah.

Selain menjual batik berupa kain, batik produksinya juga berupa pakaian siap pakai. Umbuk menyebutkan selama ini batiknya sudah dipasarkan ke berbagai daerah seperti Jakarta, Samarinda, dan Bandung. Namun, pasar lokal Kulonprogo dianggap berpotensi besar untuk menyelamatkan penjualan di akhir tahun.

Sesuai arahan pemerintah, batik yang laris di Kulonprogo biasanya bermotif geblek renteng. Keberadaan batk printing asal Cina sendiri menurutnya bukan merupakan ancaman karena asyarakat cukup setia dengan batik lokal. “Kami juga banyak menyediakan yang berwarna cerah untuk peminat dari usia muda,”terangnya.