Karhutla Meluas, Jalur Pendakian Lima Gunung di Jateng Ditutup
Pemprov Jawa Tengah menutup sementara jalur pendakian lima gunung menyusul karhutla di Lawu, Sumbing, dan Pakuwaja. Kebakaran Lawu mencapai 230 hektare.
Ilustrasi Ujian Nasional (JIBI/Harian Jogja/Antara)
UN 2017 memberikan ruang yang luas bagi sekolah
Harianjogjaa.com, JOGJA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi mengatakan jenis soal yang diujikan harus bervariasi. Artinya tidak hanya berwujud butiran soal pilihan ganda seperti halnya yang tertuang dalam soal Ujian Nasional (UN) selama ini. Dia justru menekankan dominannya soal berbentuk esai.
Mantan Rektor Universitas Muhammdiyah Malang itu menjabarkan, soal dalam bentuk esai lebih menuntut siswa tidak hanya berpikir praktis. Tapi lebih menuangkan konsep jawaban dengan penalaran yang lebih mendalam.
Muahdjir pun untuk kesekian kalinya membeberkan alasan kuat mengganti konsep UN mulai tahun mendatang.
"Konsep UN ini tetap harus kita benahi. Tidak bisa standar pengukuran potensi siswa hanya diukur berdasarkan materi pelajaran yang di-UN-kan," paparnya, saat menghadiri acara pembukaan Kongres XXI Persatuan Tamansiswa, Selasa (6/12/2016).
Pengukuran potensi siswa, menurut dia, harus mendasarkan pada tiga kemampuan. Ketiga kemampuan tersebut adalah menghafal, menghitung dan mengaplikasikan.
Sementara pada konsep UN selama ini hanya bisa menjangkau aspek menghitung dan meghapal saja.
"Padahal yang paling penting itu unsur agar siswa bisa mengaplikasikan," jelas dia.
Maka dari itu, Muhadjir berharap adanya kreativitas masing-masing guru dalam merancang sebuah soal yang mampu menuntun siswa tidak sebatas menjawab soal tapi bisa mengaplikasikannya.
Dengan cara itu pula, maka para guru dituntut berpikir kreatif agar anak didiknya bisa memiliki kemampuan nyata dalam mengaplikasikan pengetahuan yang didapat di sekolah.
Muhadjir pun berharap kebijakannya mengganti konsep UN tidak dipandang secara negatif oleh para guru dan sekolah. Konsep baru UN menurut dia, jelas dia justru berupaya untuk menyamaratakan derajat para guru. Dengan sistem baru nanti, semua mata pelajaran adalah penting sehingga para guru pengampu masing-masing mata pelajaran dianggap sama.
Hal itu tidak dia lihat ketika model UN lama. Apalagi ketika nilai kelulusan hanya ditentukan oleh sebagian mata pelajaran seperti bahasa Inggris, matematika, bahasa Indonesia, IPA dan lainnya. Kondisi itu menyebabkan ada guru yang diunggulkan dan tidak diunggulkan. Akibatnya ada mata pelajaran yang dikorbankan. Semua terfokus ke mata pelajaran tertentu yang menjadi tolok ukur kelulusan UN.
"Guru ketrampilan dianggap kalah dengan guru pengampu mapel yang di-UN-kan. Padahal justru ketrampilan ini yang sangat dibutuhkan siswa," paparnya.
Sementara Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan arahan jelas tentang sistem USBN. Pihaknya juga belum melangkah sebelum ada instruksi presiden yang menjadi landasan kuat konsep baru ujian akhir pengukur prestasi siswa.
"Pokoknya kita tunggu dulu Inpres turun, baru kita melangkah," papar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemprov Jawa Tengah menutup sementara jalur pendakian lima gunung menyusul karhutla di Lawu, Sumbing, dan Pakuwaja. Kebakaran Lawu mencapai 230 hektare.
Prabowo memanggil Yusril ke Istana untuk membahas kajian DEN soal definisi korupsi dan wacana pembaruan UU Pemberantasan Tipikor.
Mantan Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang ditahan selama 20 hari di Rutan Polda Sulsel terkait dugaan pemerasan, gratifikasi, dan TPPU
DPRD Kota Yogyakarta mengawal aspirasi warga soal perlindungan becak dan andong serta pengembangan wisata Kali Winongo dalam Raperda Ripparda.
Kota Jogja mengolah 209,97 ton sampah per hari menjadi bahan baku, kompos, produk daur ulang, hingga sumber energi.
Lupa membawa SIM saat Operasi Patuh 2026? Simak sembilan langkah aktivasi SIM Digital lewat aplikasi Digital Korlantas Polri.