Mahasiswa Program Doktor Didorong untuk Studi Banding ke Luar Negeri

12 Desember 2016 04:19 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sutaryo mendorong para mahasiswa program doktor UGM untuk melakukan studi banding ke luar negeri

Harianjogja.com, JOGJA- Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sutaryo mendorong para mahasiswa program doktor UGM untuk melakukan studi banding ke luar negeri, agar menghasilkan penelitian berkualitas internasional.

"Mahasiwa Doktor UGM paling tidak harus studi banding keluar negeri minimal tiga bulan, untuk menghasilkan penelitian berkelas internasional," ujar dia saat ditemui di kediamannya dalam rangka pemberian rekomendasi kepada calon mahasiswa baru program Doktor UGM, di Jatimulyo Baru, Sleman, Minggu (11/12/2016).

Menurut dia, saat ini cukup banyak mahasiswa program doktor yang kurang memadai dalam hal penelitian yang dikategorikan berkualitas internasional.

Padahal, katanya, para mahasiswa dari negara-negara di kawasan Asean dan Asia sudah sangat maju, khususnya dalam memproduksi karya tulis yang dimuat dalam jurnal internasional.

Ia mengatakan, dengan adanya program studi banding ke luar negeri maka diharapkan para pembimbing mahasiswa program doktor tersebut juga optimal mendukung agar karya tulis mahasiswa itu bisa masuk dalam jurnal internasional.

"Salah satu kriteria perguruan tinggi masuk kategori internasional adalah jika semakin banyak tulisan dan karya tulis mahasiswa dari suatu negara berhasil masuk dalam jurnal internasional," terang Sutaryo, seperti dikutip dari Antara.

Ia melanjutkan, dengan semakin banyak karya tulis mahasiswa masuk dalam jurnal internasional maka UGM secara otomatis akan mendapat predikat juga. Karena itu, langkah mendorong mahasiswa program doktor untuk studi banding minimal tiga bulan di luar negeri, wajib diperhatikan.

"Harapan kita ke depannya, program seperti bisa dipertahankan secara konsisten. Karena harus diakui bahwa kualitas peneliti kita dengan peneliti dari luar negeri, cukup berbeda banyak. Jadi perlu dioptimalkan peluang tersebut," papar Sutaryo.