NELAYAN GUNUNGKIDUL : Sepekan Terakhir Melaut Justru Rugi

15 Desember 2016 07:20 WIB Bhekti Suryani Gunungkidul Share :

Nelayan Gunungkidul, hasil tangkapan turun drastis

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Nelayan pesisir selatan Gunungkidul dilanda paceklik. Sepekan terakhir hasil tangkapan ikan menurun drastis alias anjlok.

(Baca Juga : http://www.solopos.com/2016/12/14/nelayan-gunungkidul-paceklik-hasil-melaut-hanya-1-kg-per-hari-776587">NELAYAN GUNUNGKIDUL : Paceklik, Hasil Melaut Hanya 1 Kg per Hari)

Slamet, salah seorang nelayan Pantai Gesing Dusun Bolang, Desa Girikarto, Kecamatan Panggang mengatakan hasil tangkapan sebanyak itu menurutnya tidak cukup menutup biaya operasional yang dikeluarkan saat melaut. Mulai dari membeli bahan bakar dan keperluan operasional lainnya.

“Bahan bakar kalau diminimalkan butuh sepuluh liter, di sini sekitar seratus ribuan. Belum lagi hasil keuntungan melaut tetap harus dibagi dengan yang lain,” papar dia, Rabu (14/12/2016)

Kondisi sepekan terakhir menurut Slamet tidak lagi dikatakan menurun hasil tangkapan ikan, melainkan anjlok drastis. Para nelayan justru merugi saat melaut.

“Kalau ini bukan turun lagi tapi anjlok. Kalau soal biaya sudah tekor [rugi],” lanjutnya.

Di sisi lain kata dia, nelayan tidak berkuasa menaikkan harga lantaran hasil tangkapan menurun sebab akan berpengaruh pada daya beli konsumen. Para nelayan memilih pasrah saat merugi.

Ditambahkannya, lantaran buruknya hasil tangkapan melaut, puluhan kapal nelayan Gesing kini mangkrak. Dari total sekitar 70 kapal nelayan, hanya sekitar 40% diantaranya yang berangkat melaut. Menurut Slamet, para nelayan percaya pada pranata mangsa. Pada penghujung tahun seperti sekarang, bukan masa yang baik untuk mengumpulkan hasil laut.

Nelayan lainnya Suradi menuturkan, selain angin kencang, gelombang relatif meninggi sepekan terakhir. “Mencapai hingga dua meter. Kemarin melaut setinggi ini,” tutur Suradi sembari memperagakan ketinggian gelombang yang mendekati bibir perahu.

Mayoritas nelayan memilih memperbaiki peralatan seperti pancing dan jaring saat menganggur karena tidak melaut. Menurut Suradi, penurunan hasil tangkaapan ikan mulai terjadi sejak dua bulan terakhir dan mencapai puncaknya sepekan terakhir. “Biasanya sekali melaut dapat satu setengah kwintal sekarang hanya 15 kilogram,” tutur Suradi.